Pamanku diujung Senja

Ada perasaan bahagia bercampur gundah gulana tatkala aku dan anak perempuanku di hari lebaran itu menyambangi rumah pamanku diujung Depok sana. Rumah yang masih seperti dulu bangunannya dengan beberapa renovasi didalamnya yang semakin membuat nyaman penghuninya.

Pamanku yang didepok ini rupanya setali tiga uang dengan alm ibuku yang sekaligus juga adalah adik perempuannya, tak begitu menyukai pajangan dengan pernak-perniknya. Mereka lebih suka memajang foto-foto kenangan keluarga. Dan itu pun tak banyak jumlahnya. Beberapa terlihat menempel pada dinding putih ditengah ruangan sana.

Saat itu pamanku sempat mengambil salahsatu foto yang menempel pada dinding tembok persis menghadap keruang tamu. “Ini foto alm ibu mu terakhir waktu main ke Depok,” kata pamanku dengan suara pelannya.

Aku amati dalam-dalam foto itu.. semua yang ada difoto itu tak terkecuali. Jari tanganku seakan bergerak-gerak begitu saja, mengusap-usap wajah di foto yang masih baru, seakan mereka ikut menatapku disaat itu. Aku lalu menyunggingkan senyum pada pamanku sambil menahan kegetiran mengingat akan ibu ku yang telah tiada. Senyum yang kusunggingkan pada pamanku adalah senyum tawar karena di foto itu kini tinggal seorang pamanku dan istrinya yg telah diujung senja.

Ya.. orangtua ku kini tinggal “seorang” – pamanku dengan istrinya. Mereka sudah tidak muda lagi dengan banyak ‘keluhan’ terhadap apa yg dirasakan tubuhnya saat ini. Yang satu dengan maag akutnya dan satunya dengan kedua kakinya yang sudah tak kuat berjalan jauh.

Langit-langit putih diluar sana seakan menyadariku bahwa aku pun nanti akan seperti mereka, tua dengan segala keterbatasannya. Kehadiran anak-anaknya dan saudara-saudaranya seperti inilah yg akan mampu membuat mereka selalu berbesar hati dan tersenyum bahagia. Tanda bahwa mereka masih diingat oleh keponakan-keponakannya.

Sehat-sehat terus buat paman dan istrinya. Semoga berkah usianya dan kita bisa berjumpa lagi di momen-momen kebahagiaan berikutnya.. aamiin Yaa Rabb

~~~~~

Iklan