Benyamin “Si Abu Nawas”

abu nawasMelihat salahsatu film jadul dari alm Benyamin S, seperti mengingatkan saya akan pertunjukkan layar tancap yang dulunya kerap saya tonton. Pertunjukkan layar tancap biasanya diadakan dilapangan sepakbola yang ada di kampung saya dan selalu saja mengundang keramaian mendadak pada malam itu.

Para pedagang dadakan yang biasa mengisi stan-stan dipertunjukkan layar tancap biasanya tidak jauh-jauh dari ‘cemilan’ yang memang khas dikonsumsi oleh para penikmat layar tancap. Kita bisa menjumpai didalamnya para pedagang kacang rebus, pedagang rokok kretek dan tentunya pedagang jamu yang tentunya menjadi produser dari acara layar tancap.

Kembali kepada film jadul dari alm Benyamin S yang saya tonton kemarin adalah film yang berjudul “Abu Nawas”. Melihat dari tahun produksi filmnya yaitu tahun 1974 (Wikipedia), sungguh suatu film yang klasik banget.

Seperti dalam film-film Benyamin S lainnya yang selalu menyuguhkan kekonyolan dan kekocakkan dari sang aktor, dalam film Benyamin “Si
Abu Nawas pun demikian, terlebih dalam film ini aktor Benyamin S berperan ganda, yaitu sebagai tokoh Napi dan Pinarto yang keduanya memiliki wajah yang sama namun berlainan nasib diantara keduanya.

Senang sekali melihat film jadul ini karena membawa kita kepada suasana kota Jakarta dan sekelilingnya tempo dulu. Salahsatunya adalah kita bisa mengetahui stasiun Gambir pada saat itu, sederhana banget, persis adanya seperti stasiun Jatinegara yang sekarang. Selain itu kita juga bisa melihat jalan-jalan yang ada di ibukota yang masih begitu lengang dari kepadatan mobil-mobil angkutan didalamnya.

Berikut sinopsis dari film Benyamin “Si Abu nawas”:

Seorang pemuda bernama Napi (Benyamin S) yang tinggal dipinggiran Bekasi, udah ngebet banget ingin kawin dengan sang pujaan hatinya, yaitu Warni (Ida Royani). Warni mewanti-wanti Napi agar segera mencari pekerjaan kalau ingin segera melamar dirinya. Berangkatlah kemudian Napi ke ibukota Jakarta untuk mengubah garis hidupnya walau hanya dengan berbekal nekad dan kepolosan sebagai orang kampung.

Dilain pihak, Pinarto (Benyamin S) yang merupakan seorang pengusaha sukses sedang terlibat konflik dengan istrinya Marni (Rosalina Oscar) sehingga saat itu Marni hendak pulang ke rumah orangtuanya di Bandung. Berangkatlah Marni kemudian menuju stasiun Gambir untuk menuju ke Bandung.

Di stasiun Gambir inilah kelucuan sekaligus kesalahpahaman terjadi antara Napi dan Marni. Marni mengira Napi (yang baru saja tiba di stasiun Gambir) adalah Pinarto suaminya yang sengaja memata-matainya.

Singkatnya kemudian Napi diterima bekerja di kantornya Pinarto karena Napi telah berhasil menolong salahsatu anakbuah Pinarto dari aksi perampokan. Mengingat seorang Napi tidak dapat membaca dan menulis, akhirnya Napi diperbantukan sebagai tenaga pengiriman barang sekaligus penagihan didalamnya.

Anehnya meskipun wajah mereka kedua serupa tapi keduanya tidak berusaha ingin mencari tahu semua itu. Sampai akhirnya ada mantan anak buah Pinarto yang sudah dipecat ingin memanfaatkan sosok Napi dalam menguras keuangan perusahaan dari milik Pinarto. Dari hal inilah akhirnya Pinarto berusaha mencari jejak Napi yang sebelumnya sudah mengundurkan diri dari perusahaannya akibat kesalahpahaman yang terjadi saat pulangnya Marni dari Bandung.

Marni (istrinya Pinarto) yang sudah beberapa lama meninggalkan Pinarto akhirnya kembali ke rumah Pinarto disaat Pinarto tidak ada dirumahnya. Napi lah yang ditugaskan menjaga rumah Pinarto sampai ia kembali dari urusan bisnisnya diluar.

Sekembalinya Marni ke rumah Pinarto suaminya, kembali kelucuan disajikan dalam film ini karena lagi-lagi Marni menduga Napi adalah Pinarto suaminya.

Ending dari film ini akhirnya membuka misteri dari “duo kembar” antara Napi dan Pinarto. Rupanya mereka benar adalah kembar identik yang terpisah akibat peperangan di masa revolusi berlangsung.

Film yang cukup menghibur dan tentunya mengajak imajinasi para penontonnya untuk bernostalgia kembali dengan suasana kota Jakarta tempo dulu. 😉

Sumber gambar

Iklan

6 Comments

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s