Tampan Tailor

tampan tailorBeberapa bulan yang lalu, film Tampan Tailor sebenarnya sudah pernah ditayangkan disalahsatu channel tv lokal di negri ini. Cuma sayangnya saat itu di kampung saya terjadi pemadaman listrik (konon bergilir) yang membuat seisi kampung pada ‘galau massal’. Para penduduk kampung pada kesal, marah serta gundah gulana karena keasyikan mereka dengan beberapa acara di televisi malam itu harus berhenti seketika itu juga.

Saya sendiri saat itu sedang asyik bersama istri menonton filmnya Vino-Marsha (Tampan Tailor) yang durasinya belum ada separuh mainnya. Kalau tidak salah sih listrik tiba-tiba padam pas adegan Topan (Vino G Bastian) yang dikeluarkan dari tempatnya bekerja sebagai penjahit.

Film Tampan Tailor sesungguhnya sangat menginspirasi para penontonnya (terutama para ayah) karena memuat nilai-nilai kegigihan dari seorang ayah yang selalu sabar dan pantang menyerah dalam mendidik putra tunggalnya selepas kepergian istri tercintanya akibat sakit yang dideritanya.

image

Kita boleh kehilangan segalanya tetapi jangan kehilangan harapan

Sinopsis:

Diawal film dikisahkan tentang Topan yang baru saja mengalami kebangkrutan ekonomi selepas membiayai pengobatan istrinya yang akhirnya meninggal dunia. Usaha toko jahitnya (Topan seorang penjahit) kini tinggalah kenangan yang semuanya telah dijual. “Yang tersisa” kini hanya tinggal putra semata wayangnya, buah cinta kasih Topan dengan istri tercintanya dulu.

image

Beruntung ditengah kesulitannya tersebut, saudaranya yang bernama Darman (Ringgo Agus Rahman) bersedia menolongnya dengan mengijinkan Topan dan putranya menetap sementara di rumahnya.

Tekad untuk memberikan hal yang terbaik bagi anaknya, menjadikan Topan tak begitu malu dengan beberapa profesi yang dijalankannya. Begitulah, akhirnya Topan ikut bersama Darman menjadi calo tiket kereta api disebuah stasiun yang tak jauh lokasinya dengan tempat tinggal mereka. Tak hanya menjadi calo tiket, buruh kasar pun dilakonin oleh Topan bahkan kemudian menjalani profesi sebagai stuntman, profesi yang tentunya sangat berbahaya sekali karena dapat mengancam dirinya disetiap pengambilan adegan berbahaya berlangsung. Namun itu semua dijalani Topan dengan penuh keyakinan agar kelak nantinya bisa memberikan kebahagiaan buat anaknya.

image

Prita (Marsha Timothy) yang merupakan kawannya Darman rupa-rupanya mulai ‘bersimpati’ terhadap Topan atas segala kegigihannya. Awal perjumpaan pertama Prita dengan Topan sendiri yakni saat anaknya Topan sering main ke tokonya Prita.

Lewat Prita lah akhirnya Topan bisa kembali menjalani profesinya sebagai penjahit. Prita memberikan rekomendasi kepada Topan tentang usaha jahit yang sedang dijalani oleh kawannya. Rupa-rupanya usaha penjahitan pakaian tempat dimana kini Topan bekerja tidaklah berskala kecil. Masa depan yang cerah sudah tergambar didalam benak Topan kini. Bahagia sekali rasanya dia bekerja ditempat barunya.

Pembuatan jas baju adalah spesialisasi didalam perusahaan jahit tersebut. Dan bagi Topan sendiri, hal ini bukanlah tantangan berarti karena semasa menjahit dahulu, Topan sudah terbiasa membuatnya. Tak heran, walaupun berpredikat sebagai penjahit yang baru, dia mampu memberikan arahan dan juga masukan bagaimana cara yang baik membuat jas baju kepada penjahit-penjahit yang lainnya.

Seperti dalam kehidupan, selalu saja ada orang yang tak suka bila melihat seseorang berhasil atau pandai dalam suatu hal, demikian pula ditempat dimana Topan sekarang bekerja. Kepiawaian Topan dalam membuat jas baju rupanya telah membuat iri supervisornya yakni Supri (Epi Kusnandar) terlebih lagi Topan suka mengajari para penjahit lainnya. Topan akhirnya difitnah telah menggelapkan uang pembelian bahan-bahan pakaian sehingga dia kemudian di pecat oleh atasannya.

Gadis Prita yang diam-diam telah menaruh hati kepada Topan, seakan tak percaya tatkala mendapat kabar dari kawannya bahwa Topan telah menggelapkan uang perusahaan. Kesedihan kini melanda Prita dan dia tidak ingin menemui Topan lagi… (hiks.. hiks.. ambil tisu dulu yaa.. penulisnya ikutan haru) 😆

*****

Film yang sangat bagus, lagi-lagi mampu membuat air mata saya jatuh (berkali-kali). Siapa yang menanam, dia lah yang akan mengetam nantinya. Siapa yang berbuat baik, pada akhirnya akan mendapatkan buah yang manis dari apa yang ditanamnya yaitu kebaikan. Film ini berakhir dengan happy ending, begitulah Rabb selalu bersama dengan hamba-hambanya yang senantiasa berbuat kebaikan.

Capture: Youtube

Iklan

3 Comments

  1. Ping balik: Andai Aku Bisa | capung2

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s