Lapangan Jendral Urip

634790174337488143-koinonia-an-old-church-in-jakartalukisan foto Gereja Koinonia yang berhadapan tak jauh dengan lapangan Jendral Urip S

Buat yang home-stay nya dibilangan Jakarta Timur tentu mengenal dengan Lapangan Jendral Urip. Sebuah lapangan sepakbola yang anehnya dulunya lebih dikenal sebagai surganya para pedagang kaki lima dalam menjual barang dagangannya.

Bukan hal yang aneh memang, masa itu Lapangan Jendral Urip begitu hiruk pikuk layaknya sebuah pasar tradisional yang menjadi magnet bagi para pembeli yang sengaja mencari barang-barang murah.

Masa itu para pedagang kaki lima menempati lapak-lapaknya hingga memakan bahu jalan yang ada didepannya sehingga seringkali membuat kemacetan yang cukup panjang hingga Jalan Matraman. Kemacetan ini biasa terjadi pada sore hari atau pada saat jam pulang kantor.

Kemacetan yang cukup parah ditambah dengan adanya putaran yang berada didepan Gereja Koinonia yang dimanfaatkan oleh pak ogah yang bergaya layaknya polisi lalulintas.

Seperti diketahui para pedagang kaki lima ini membuka lapak-lapaknya dari lampu merah yang menuju Matraman hingga St Jatinegara sehingga memaksa para supir untuk rela bersabar menghadapi rutinitas kemacetan di sore itu.

Adapun jenis barang yang diperjualbelikan di Lapangan Jendral Urip sangatlah beragam. Dari mulai busana terutama celana jean obralan, kaos, barang elektronik seken hingga sepatu seken ( lokasinya persis dibawah jembatan kereta api atau berjarak 200 meter dari Lapangan Jendral Urip ).

Bagi anda yang rambutnya sudah gondrong, tidak jauh dari Lapangan Jendral Urip atau persisnya berada disisi Gereja Koinonia, ada beberapa tukang cukur yang sengaja stay disana menunggu konsumennya dengan peralatan cukur yang sederhana. Saya sendiri belum pernah cukur ditempat ini… tahu sendirilah alasannya, tengsin gw kalo ke gap ama kawan apalagi sampai ke gap ama pacar:mrgreen:

Sejauh pengamatan saya, konsumen yang menggunakan jasa para tukang cukur disisi Gereja Koinonia ini kebanyakan diisi oleh para orangtua, jarang sekali saya melihat anak-anak muda ataupun para abg yang menggunakan jasanya. Kalaupun ada, itu pun anak kecil usia SD yang sengaja diantar oleh ayahnya untuk dicukur model stik atau cukuran model pendek ala Kopassus.

Masih di lapangan Jendral Urip, lebih persisnya didepannya terdapat sebuah kantor pos Jatinegara. Bangunannya sendiri tidak begitu besar namun nampak seperti bangunan lama. Masa itu sering saya singgahi untuk sekedar mengirimkan kartu pos undian di majalah/surat kabar.

Satu hal lagi yang saya ingat dari lapangan Jendral Urip, diantara bangunan kantor pos Jatinegara dan Gereja Koinonia, ada bangunan yang disebut dengan “Seksi Tujuh” dimana masa itu Seksi Tujuh dikenal sebagai rumah bersalin, yang kata cerita Ibu saya, ditempat inilah saya dilahirkan beberapa puluh tahun yang lalu. 😀

sumber gambar : www.paintingsilove.com

Iklan

9 Comments

  1. @kangyan.. mmg bgtlah kenyataannya dilapangan, semuanya nampak semrawut.. tpi sekrg suasananya sdh lbh baik

    @erit.. lyknya pasar, banyak keanekaragaman yg dijual disana

    @arip.. se7 kisanak walo caranya gag tepat

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s