Rumah kita

indexMpok Siti tersenyum dan sesekali menahan tawa melihat ulah kong Amir sore itu.  Gimana mpok Siti ngga geli dibuatnya karena sore itu kong Amir memang seperti melupakan usianya yang sudah diujung senja.

Sore itu kong Amir sedang asyik memeluk gitar jadulnya yang dulunya biasa dipamerkan kepada belahan jiwanya yang sekarang menjadi istri tercintanya.

Dimasa mudanya dulu kong Amir memang pandai bermain gitar serta mendendangkan lagu-lagu yang disukainya baik itu lagu-lagu lokal Indonesia maupun mancanegara. Tak ayal masa itu kong Amir banyak mempunyai teman baik itu teman wanita maupun pria yang kala itu sering request kepada kong Amir untuk memainkan gitarnya sekaligus mengiringi lagu yang dibawakan oleh kawan-kawannya itu.

Sekarang gitar jadulnya sudah siap dimainkan. Jemari ditangan kirinya sudah siap memindahkan nada-nada lagu yang akan dimainkannya. Sementara itu agar lebih pas lagi nada yang akan dimainkannya, tangan kanan kong Amir menyetel beberapa kunci gitarnya. “Ting.. ting..,” kayaknya udah pas nih fikirnya. :mrgreen:

~~~~~ hanya bilik bambuu, tempat tinggal kitaa… tanpa hiasan tanpa lukisan… Beratap jerami, beralaskan tanah… Namun semua ini punya kita… Memang semua ini milik kita, sendiriii.… ~~~~~ (wuihh.. berat lagunya,.)

~~~~~hanya alang alang pagar rumah kita… tanpa anyelir, tanpa melatii…hanya bunga bakung tumbuh di halaman… namun semua itu punya kitaa… memang semua itu milik kitaaaa... ~~~~~

uhuk-uhuk-uhuk.. !” tiba-tiba kong Amir batuk tidak lama setelah melantunkan lirik yang terakhir ini. Nafasnya mulai sengal-sengal akibat sakit bengek yang diidapnya sejak lama.

Buru-buru mpok Siti menghampiri kong Amir sambil memberikannya air minum dan mengusap-usap punggung belakang lelaki yang dicintainya itu sambil berharap batuknya kong Amir segera mereda dan nafasnya bisa kembali normal.

Abang sih, sok belagu nyanyiin lagu kayak begitu.. ngga inget ama umur kali ya ?” kata mpok Siti meledek.

Neng, tahu nggak ?”  lagu “Rumah kita” yang dibawakan oleh Godbless ini bila dilihat lirik-liriknya mempunyai pesan yang mendalam lho.. ucap kong Amir setelah nafasnya mulai berangsur membaik.

Lagu ini mengajak kita untuk senantiasa bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki walaupun semuanya sangat sederhana menurut kacamata orang yang melihatnya. Jangan kita mudah silau dengan gemerlap kehidupan kota yang seringkali memang membuat orang-orang desa seperti terhipnotis untuk mendatanginya. Kita harus menanamkan pengertian kepada mereka, generasi muda yang tinggal didesa-desa untuk mari membangun desanya karena begitu banyak sumber daya alam yang bisa digali dan dimanfaatkan oleh mereka,” kata kong Amir dengan lugasnya.

Gimana nih Neng… Abang lanjutin yah nyanyinya… ?!” tanya kong Amir kemudian.

“Terserah Abang aje deh… tapi Neng ikutan nyanyi yahh.….” balas mpok Siti dengan manjanya.

******

Jadilah Sore itu kong Amir dan mpok Siti bergaye seperti anak-anak abegeh, bernostalgia dengan lagu setelah penat dengan kehidupannya sehari-hari….. 😉

sumber gambar : pivton.blogspot.com

Iklan

18 Comments

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s