Menulis Surat (Cinta)

surat-dari-iblisSayang sekali memang surat-surat cinta yang dulu pernah aku buatkan untuk kekasihku (yang sekarang istriku) sudah tidak tersisa lagi barang sepucuk pun. Sebenarnya ingin rasanya membuka-buka kembali surat-surat kenangan itu sekedar merefresh kembali bahwa aku tuh dulu memang “pandai menulis” surat cinta.

Hmm.. sebenarnya sih surat yang aku buat waktu itu, kalau mau dibandingkan dengan surat-surat dari kawan yang lainnya sangat jauh berbeda. Surat cinta ku jauh dari kata-kata yang berbau puitis (emang nggak bisa berpuisi) atau boleh dikatakan tidak picisan lah. Isi suratnya pun kebanyakan ‘santai’ dan sering disisipin dengan guyon-guyon ringan (tapi dalem lho… :mrgreen: ). Namun begitu walau isi suratnya sering ‘santai’, tetap aja kalau dibalas oleh sidoi dengan surat balasan yang rada serius dan cukup krusial, cukup membuatku galau stadium 4 dan ujung-ujungnya pasti aku akan pulang untuk menemuinya. 😀

Bagaimana halnya dengan tulisan surat dari sidoi? Tulisannya memang bagus namun isinya menurutku tidak mengalir seperti isi surat ku (maaf yah.. say.. 😆 ), cenderung gaya bahasanya agak kaku dan monoton dan kurang bisa berbasa-basi didalamnya. Cuma aku tak pernah kasih tahu sih ke dia.. tapi buat ku sendiri itu bukanlah masalah. Aku sudah merasa happy sekali kalau datang surat dari dia, berarti dia memang memperhatikanku. Ini yang penting fikir ku.

Membandingkan penulisan surat dengan jaman sekarang tentu sangat jauh sekali berbeda. Anak-anak generasi sekarang lebih dimanjakan dengan tekhnologi internet yang dahulunya belum pernah aku dapatkan. Kecepatan dan kemurahan dalam mengakses informasi berbanding lurus dengan keinginan intens mereka dalam berhubungan dengan lawan jenisnya. Demikianlah… lewat email, chatting maupun media social lainnya seperti Facebook, hubungan “pertemanan” mereka semakin dilarutkan didalamnya. Apalagi ditambah dengan aplikasi video call yang semakin ‘mengeratkan’ pertemanan mereka.

Yahh.. begitulah.. anak-anak jaman sekarang sepertinya sudah terbiasa “menulis” surat lewat keyboard yang ada di PC mereka masing-masing. Dan jangan heran bila isi tulisan mereka bagus-bagus didalamnya karena memang mereka tanpa disadari telah dibimbing oleh guru PC mereka yaitu mbah Google. Tapi tentu tidak semua orang dalam menulis surat cinta menggunakan jasa si mbah. Pastinya banyak orang-orang yang menulis dari ide kreatifnya sendiri, apalagi ini hanya sebatas menulis surat cinta. Masak sih, harus konsultasi dulu ke si mbah.. ntar jadi bonekanya si mbah lho, emang mauu.. 😆

Dari kedua era penulisan surat ini tentunya masing-masing generasi mempunyai perbedaan satu sama lainnya. Generasi jadul kayak aku, pastinya akan menilai bahwa di masa dialah yang lebih bermakna, lebih romantis, lebih terasa kangennya, lebih tinggi tingkat kegalauannya dibandingkan dengan generasi sekarang.

Apakah anda setuju? Kalau setuju berarti anda termasuk generasi jadul. Jadi saran ku, lebih baik anda nggak usah setuju karena berarti anda termasuk generasi sekarang… 😎

Iklan

8 Comments

  1. sudah beda jaman mas,sekarang eranya gadget,ukan pena dan kertas lagi..

    tapi jangan salah justru yang jadul itu yang bikin rindu… 🙂

    surat cinta yang ditulis lewat tulisan tangan itu paling ngena banget bisa berasa debarannya lewat guratan tulisan dan kalimat kalimat yang tersusun 🙂

    aku masih ada 1 tuh surat dari sang pujangga tersimpan rapi 😀

    **kita sama sama aliran jadul ya 😆

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s