Antara Lontong Sayur dan Nasi Uduk

Pedagang itu meletakan barang dagangannya masih lah berdekatan jaraknya. Mungkin hanya sekitar 30 meter. Dua-duanya berjualan di pagi hari, disaat mentari baru saja akan menggeliat dan menyongsong perintah dari Rabb Nya.

Kedua pedagang ini berjualan makanan pagi yang kedua-duanya kebetulan aku menyukainya. Yang satu, didepan gerbang rumah kosong itu adalah ibu penjual nasi uduk beserta aneka pelengkap lainnya semisal bihun, kentang balado berbentuk dadu-dadu kecil, tempe oreg serta telur baladonya. Sementara disebrang sana, seorang ibu muda menjual lontong sayur padang dengan pelengkapnya pula walau tak selengkap seperti ibu penjual nasi uduk.

Melihat segi kelengkapan dari menu yang ditawarkan kepada pembelinya, terlihat keramaian pembeli itu berada pada ibu penjual nasi uduk. Sementara sang kompetitornya, yakni ibu pedagang lontong sayur nampak biasa-biasa saja jumlah pembelinya.

Aku pernah berdagang dan bisa merasakan bagaimana saat toko kecil kita sepi sementara tokoh sebelahnya ramai oleh pembelinya. Wajar dan manusiawi bila kemudian ada perasaan sedih di hati kita, apalagi mungkin disaat itu usaha dagangnya barulah permulaan.

Demikian halnya disaat pagi itu, nampak oleh ku ibu penjual nasi uduk sudah ramai oleh pembelinya. Sementara ibu penjual lontong sayur masihlah sepi dari pembeli. Aku yang sedari dulu memang sangat anti bila harus mengantri untuk sekedar membeli makanan, tanpa berfikir panjang lalu beralih ke ibu pedagang lontong tersebut. Aku merasa kasihan dengan ibu itu karena sepi pembeli. Aku berfikir jualan ibu ini pun -lontong sayur padang- aku juga menyukainya. Lidah ku sekarang sudah menjadi lidah Padang yang amat menyukai makanan yang berbau pedas seperti halnya istri ku yang memang asli dari suku Minang.

Jadi mau beli yang mana, lontong sayur padang atau nasi uduk? Yang mana saja buat aku mah.. yang penting aku tidak mengantri membelinya. Dan kalau pun harus mengantri, pilihan ku akan jatuh pada antrian yang paling sedikit. 👌👌

Iklan