Rumah Besar

Rumahku berada persis di pinggir jalan. Memang jalan itu bukanlah jalan utama, namun tetap ramai dan kerap digunakan supir-supir mikrolet maupun bajaj yang ingin menghindari kemacetan di jalan utamanya.

Tak jauh dari sisi rumahku -hanya diselang satu rumah- ada tiang listrik yang berdiri nyaris ditengah-tengah jalan gang sehingga para pengendara motor harus berhati-hati dan sabar ketika ada pengendara motor lainnya yang ingin masuk ke gang itu.

Aku pernah melihat kepala tiang listrik itu, banyak benang layangan dan rangkanya yang tersangkut disana. Sangat kusut dan tak beraturan. Seringkali benang-benang itu membuat kesal petugas listrik yang kebetulan sedang bertugas ketempatku.

Beruntung petugas listrik yang dikirim orang-orangnya ‘minimalis’ sehingga waktu pengerjaannya pun menjadi cepat dan efesien.

Sementara itu, didepan persis rumahku terdapat rumah besar. Rumah bertingkat dua. Halamannya lumayan luas dengan garasinya disana. Aku sering melihat ada dua mobil yang terparkir didalamnya. Satu anak perempuannya suka membawa mobil yang berwarna hitam. Cukup piawai juga cara membawa mobilnya. Ini terlihat dari bagaimana dia memarkirkan mobilnya.

Hanya satu nama yang kukenal dari penghuni rumah besar itu, pak Mukhlis namanya. Orangnya tinggi putih dengan rambut dan janggutnya yang memutih semua. Sudah diujung senja usianya. Jalannya perlahan ketika menuju masjid dan selalu ramah kepada siapa pun yang kebetulan berpapasan dengannya.

Aku sering melihat pak Mukhlis memberi uang kepada nenek peminta-minta yang berada tak jauh dari mesjid, sesaat sebelum dia menunaikan shalat Jumatnya.

Sudah kaya, tidak sombong, dermawan pula,” ucapku dalam hati.

Aku iri dengan orang-orang seperti Pak Mukhlis ini, label orang berada tidak membuatnya jumawa apalagi sampai berlaku dzhalim terhadap tetangganya. Kekayaan baginya hanyalah titipan yang suatu saat mudah saja Rabb mengambilnya. Dan jauh lebih penting lagi bahwa kekayaan itu akan dimintai pertanggungjawabannya nanti dihari akhir.

*******

Gambar

Iklan