Walang… Weleh-weleh

Saat diwawancarai oleh awak media disalahsatu tv swasta nampak logat sundanya masih kental. Dialah Walang, seorang bapak yang usianya “baru” 54 tahun yang baru saja membuat mata kita terbelalak dengan omzet pendapatan dari profesi yang digelutinya sekarang.

Walang yang profesi sehari-harinya adalah tunawisma yang berlabel “manusia gerobak” tertangkap tangan (maaf, minjam istilah Jubir KPK) menyimpan sejumlah uang (totalnya ditaksir Rp25 juta) didalam “celengan bagongnya” (baca: gerobak). Hasil yang dicapainya ini tentunya dilakukan dengan cara mengiba-ibakan dirinya lewat “penderitaan” sebagai manusia gerobak.

Pendapatan Walang yang jumlahnya cukup mencengangkan tersebut hanya dicapai dalam waktu 15 hari saja.. weleh-weleh, assoy bukan.. ! :mrgreen:

Pada dasarnya setiap anak manusia yang mempunyai hati nurani tentunya mempunyai rasa keibaan terhadap sesamanya terlebih lagi bila obyek penderitaannya itu tereksploitasi “secara vulgar” didepan matanya sendiri. Sangat wajar rasanya bila rasa simpati yang terbalut emosional muncul dengan seketikanya saat melihat peran seseorang yang jauh dibawah tataran ekonominya seperti halnya Pak Walang ini.

Bila seseorang yang kebetulan saja saat itu mempunyai kelebihan uang tentunya dengan serta mertanya akan memberikan sedekahnya kepada Pak Walang, namun kalau pun mereka (yang tidak mempunyai uang berlebih) tidak memberikan sedekahnya pastinya didalam hatinya merasa bersalah dan mendoakan agar Pak Walang ini diberikan kemudahan rezekinya dan diberikan kesehatan selalu oleh Rabb-Nya.

Itulah sifat dasar manusia yang bernurani, selalu saja mempunyai rasa keibaan terhadap sesamanya terlebih dengan orang-orang yang kurang beruntung kehidupannya seperti Pak Walang. Sifat dasar manusia bernurani inilah yang kemudian dicoba dimanfaatkan oleh Pak Walang dalam meraup uang demi uang yang berbungkus penderitaan semu.

Kita sepakat bahwa apa yang didapat oleh Pak Walang merupakan rezeki yang diusahakannya sendiri tanpa menimbulkan kerugian buat orang banyak. Namun tentunya kita juga harus ingat bahwa apa yang diusahakan ini adalah “kebohongan publik“.

Kebohongan publik” adalah sesuatu yang semestinya tidak ada didalam relung-relung hati setiap anak manusia karena bagaimanapun keberkahan dari rezeki yang kita peroleh adalah hal yang utama. Seumpama kemiskinan itu ada didalam diri kita, seyogyanya kita harus bisa “bertahan” dengan nilai-nilai kemiskinan yang bermartabat karena bagaimanapun tangan diatas adalah lebih lebih baik dan terhormat dari tangan dibawah.

Iklan

14 Comments

  1. wuuiii…galau ya dengan ulah Pak Walang..?? jangankan manusia, malaikat aja mungkin galau dengan ulah Pak Walang beserta koleganya….

    mudah-mudahn kisahnya Pak Walang ini nggak menginspirasi orang banyak utk mengikuti kiprah sukses nya ya….

  2. jujur saya sekarang males ngasih uang ke pengemis, apalgi pengemis yg badannya yg msh sehat & bugar. minta-minta kok dijadiin profesi. Gak punya harga diri bgt 😕
    masih ingat waktu waktu pengemis demo ke walikota Bandung, tuntutannya macem2, minta tunjangan setara karyawan lulusan S1 padahal gak ngapa-ngapain. Dikasih pekerjaan di bagian kebersihan kota, malah kesannya merendahkan pekerjaan tsb.

  3. Wah… profesi yang sangat prospektif.Kalah dong gaji banyak manager di perusahaan he he…
    Tapi ya itu kembali ya Mas…menadahkan tangan kepada orang lain, sebaiknya dilakukan hanya jika benar-benar tak mampu lagi menggunakan anggota tubuh kita sendiri untuk bekerja normal mencari nafkah…kecuali itu untuk anak-anak di bawah usia kerja, atau kakek-kakek /nenek-nenek tua yang sangat renta yang memang sudah tak mampu secara fisik untuk bekerja lagi.

  4. Saya juga terperangah dibuatnya. Sepertinya bukan hanya Walang, di Bandung juga beberapa waktu lalu, ketika pemerintah setempat berencana menertibkan dan akan diberi pekerjaan, mereka menginginkan upah lebih dari 3 juta, jauh diatas UMR.

  5. Dikota saya malah walikota terpilih menawarkan kepada para pengemis untuk dipekerjakan. Namun banyak yang menolak dengan alasan bahwa jika diberi penghasilan sejumlah yang mereka dapatkan setiap bulan yang tentunya lebih dari yang ditawarkan, maka mereka bersedia.

    Duuh benar-benar tidak punya harga diri dan malasnya mereka

  6. Kita harus mendukung gerakan untuk tidak memberikan uang kepada peminta2 kenapa…
    karena pengalaman ku sendiri yang pernah berhubungan dengan “mereka” masak paginya ngemis.. malamnya mereka main judi,,

    tapi itulah… dari pihak yang paling bawah saja sudah begitu..

    maaf ya baru bisa mampir lagi 🙂

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s