Cerita di Hari Jumat

Waktu sebentar lagi akan memasuki waktu Dzhuhur, sementara hari itu adalah hari Jumat. Pak Nasir selaku imam terpercaya di kampungku, nampak gelisah raut wajahnya. Sorot matanya senantiasa tertuju pada hape yang dipegangnya dan pintu depan mesjid tempat lalulalangnya jamaah keluar masuk.


Beberapa shaft dibelakangnya, aku sempat melihat Pak Nasir sedang berdiskusi dengan kawan disebelahnya yang merupakan kawannya juga di dewan kepengurusan mesjid yang dipegangnya.

Gimana nih.. ustadnya belum datang juga? Tanyanya dengan raut kegelisahan.

Kawan disampingnya hanya bisa menghela nafas, seakan menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada Pak Nasir.

Gema adzan sayup-sayup sudah terdengar dari mesjid diluar sana. Tiba-tiba Pak Nasir melihat notif dihapenya yang mengabarkan bahwa ustad yang akan mengisi ceramah Jumat sebentar lagi akan tiba. Wajah Pak Nasir sedikit berbinar. Tak menunggu lama, lalu dia berdiri dan memberikan pemberitahuan kepada jamaahnya bahwa sang ustad masih di jalan dan akan segera tiba. “Mohon bersabar buat para jamaah, ustad kita sebentar lagi akan tiba,” pintanya.

Waktu terus berjalan bagai kayuhan pedal, tak terasa 5 menit.. lalu 10 menit pun berlalu (waktu Jumat saat itu pukul 11:57) dari pukul 12 siang. Para jamaah didalam mesjid sudah mulai gelisah. Dibenak mereka kini mulai liar dugaan-dugaan terhadap sang ustad dan juga kinerja dari pengurus DKM mesjid tersebut.

Apakah tidak disiapkan ustad cadangan bila kejadian seperti ini terjadi?” Kata seorang jamaah disampingku yang menampakkan kekecewaannya.

Seharusnya.. !” Jawabku pendek

“Kenapa tidak adzan saja dulu ya, kan memang sudah waktunya masuk sholat,” timpalnya lagi.

Aku hanya diam saja tanpa membalas pertanyaannya.

Tiba-tiba menjelang menit ke 15 dari pukul 12, ada sedikit kegaduhan dibarisan shaf paling belakang.

Coba kasih jalan.. kasih jalan,” terdengar suara salahsatu jamaah yang ada dibelakang.

Rupanya sang ustad baru saja tiba. Mengenakan gamis kecoklatan dengan ‘syal‘ ala pramuka yang menggapit lingkaran leher hingga pundaknya. Warnanya putih dengan bintik-bintik hitam – sangat serasi busananya.

Setelah mukadimah sebentar terus dilanjut adzan hingga barulah ceramah dari sang ustad.

Aku merasa sudah tak asing dengan ustad ini. Ya.. beliau pernah mengisi ceramah Ramadhan kemarin di mesjid yang sama. Walau baru sekali melihatnya dan ini yang kedua, aku merasa senang sekali karena teringat bacaan ustad ini saat mengimami sholatnya sungguh membuat hati ingin menangis, sangat merdu dan penuh takzim.

Suara merdu sang ustad akan membayar semua ‘kekesalan’ para jamaah,” demikian keyakinanku saat itu.

Akhirnya alhamdulillah.. ceramah berjalan baik walo sesekali aku merasa diakhir pengucapan kalimat pada lima menit pertama, suaranya seperti orang baru habis berlari.

Dan puncaknya saat shalat, kali ini suaranya sudah normal, begitu bening dan sangat syahdu dengan pemilihan ayat sekitar 3-4 ayat Alquran, tak panjang memang. Para jamaah nampak khusyu mendengarkan lantunan ayat demi ayat dari sang Imam.

Sholat Jumat pun akhirnya usai seperti waktu-waktu biasanya. Para jamaah bubar tanpa terdengar ada suara-suara sumbang tentang diri sang ustad…