Diurut sama Ibu

image

Dengan sedikit terpincang-pincang dan menahan rasa sakit akibat kaki kanan yang terkilir, di Minggu pagi itu, aku pamit dengan bidadariku di rumah dengan maksud ingin mengunjungi ortu (Ibu dalam hal ini) sekalian minta diurut disana.

Kemarin-kemarin memang sudah diurut oleh istri dengan baluran minyak tawon dan baluran beras kencur sesudahnya sehingga pembengkakan yang terjadi alhamdulillah mulai berangsur-angsur berkurang. Namun untuk pengurutannya sendiri nampaknya istri ku tidak tega bila mendengar teriakan ku mengaduh kesakitan akibat pijatannya. Jadilah akhirnya pengurutannya ‘hanya diusap-usap’ alias tidak maksimal.

Saat mau berangkat, Istriku menanyakan kembali apa memang aku mau berangkat juga ke rumah ortu di Bogor (jarak dari tempat tinggalku ke rumah ortu <30 km).

Perlahan motor kesayangan, aku keluarkan. Starter terpaksa dengan menggunakan kaki kiri karena kaki kanan yang terkilir masih sakit. Saat motor sudah berjalan sepertinya rasa sakitku hilang terlupakan. Namun tidak pada setiap perempatan karena aku harus berhati-hati dalam menempatkan kakiku di aspal jalan saat berhenti ketika macet.

Berjalan dengan kecepatan yang normal akhirnya setengah jam-an lebih kemudian, sampailah aku di rumah ortu.

Sebuah rumah yang tidak terlalu besar namun cukup adem didalamnya karena semilir angin yang masuk dari pintu kecil yang menuju loteng atas. Diatas loteng inilah dahulunya aku biasa membantu Ibu menjemurkan pakaiannya. Dan diatas loteng ini pula dahulunya aku asyik bermain layang-layang.

Sekarang aku sudah berada di kamar Ibu. Nampak disana lemari jati yang masih kokoh berdiri disudut tak jauh dari ruang tidur Ibu. Ada beberapa sticker yang menempel pada lemari tua Ibu. Kami lah dulunya yang menempelnya. Mengamati lemari tua Ibu seakan membawa kepada ingatan di masa kecil. “Ahh.. cepat sekali waktu itu berlalu,” lirihku dalam hati.

Tangan Ibu yang dahulunya selalu menyentuhku dikala sakit, kini sudah siap untuk memberikan pijatan/urutan pada kaki kananku. Baru sekali pijatan, aku langsung teriak mengaduh (sebelumnya aku beritahu Ibu, dititik mana yang sakitnya). Bukannya berhenti mendengar teriakanku, Ibu kembali dan terus memijat, sementara aku kembali berteriak mengerang kesakitan.

Tahan sedikit, lemaskan saja kakinya, segini aja sakit, ” kata Ibuku dengan entengnya.

Tidak sampai seperempat jam (aku sudah menyerah gag tahan sakitnya), Ibu menyudahi pijatannya dan menyuruhku untuk menggerak-gerakkan otot kaki kanan ku.

Alhamdulillah.. pijatan Ibu ku membuat rasa sakit pada saat kaki menjejak, berangsur-angsur berkurang (walo memang belum menghilangkan sama sekali sakitnya).

Bersyukur sekali rasanya masih mempunyai seorang Ibu, yang dari sentuhan tangannya kerap memberikan energi positif terhadap proses penyembuhanku ini. Energi postif yang kudapat tak lepas dari ayat-ayat Rabb yang senantiasa meluncur tanpa henti dari mulut Ibuku saat mengurut tadi.

Trims Ibu ku dan trims bidadariku di rumah.

Iklan

4 Comments

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s