Gerobak Tua

Gerobak tua itu masih disana. Disudut pagar bambu yang dua bilahnya sudah rusak hngga kerap dimanfaatkan sekelompok anak-anak kecil yang sedang bermain petak umpat tanpa mengenal waktu. Mereka keluar masuk melalui ‘bolongan’ pagar bambu itu lalu lari dan bersembunyi sekehendak hati mereka.

Aku pun dulu seperti mereka. Bermain petak umpat. Mencari persembunyian yang kira-kira susah utk diketahui oleh kawan yang sedang berjaga. Dan rumah adalah tempat persembunyian yang paling ideal buatku saat itu. Inilah ‘bunker’ sesungguhnya yang cukup aman dari sergapan musuh. Bersembunyi dan sekaligus menikmati lezatnya makanan ibu.

Gerobak tua itu masih disana. Aku masih mengamatinya dalam-dalam. Gerobak sederhana yang dibeberapa bagiannya terlihat cat yang sudah mengelupas disana-sini. Anak-anak saat bermain kadang iseng mengelupasi kulit-kulit cat yang warnanya sudah kusam tersebut.

Ada sebuah kata pengharapan terlihat pada salahsatu sisi gerobak tua itu…”Yaa Rabb“. Sebuah kata indah yang bermakna pengharapan dan kepasrahan dari si pemilik gerobak terhadap apa yang sedang diikhtiarkannya.

Gerobak tua itu masih disana. Masih teronggok ditempat yang sama. Meninggalkan kisah dan ceritanya tersendiri. Tak hanya milik si empunya tentunya, namun juga pelanggan setianya…

Iklan