Wanita Malam

Kepalanya bergoyang-goyang.. begitupun tubuhnya ikutan bergoyang. Sementara musik house itu semakin berdentum keras, seakan membuat bergetar ‘bilik’ kamarnya.

Bau aroma minuman keras semakin menyengat menjelang dini hari, berpadu dengan bau farfum dari gadis-gadis liar dan nakal yang berpakaian ala keluarga Flinstone yang sering kutonton dulu sewaktu masih belia.

Gadis-gadis itu tentunya masih fresh dan lugu. Seringkali didatangkan dari desa-desa yang sering terkena paceklik yang cukup mengganggu perekonomian keluarganya. Tak hanya mendatangkan gadis-gadis desa tentunya, gadis kota pun turut menyumbang animo para hidung belang dalam meramaikan pesta dunia malam itu.

Aku ingin yang hidungnya mancung itu.. ahh tidak ! Yang alis tebal itu saja, sedikit mengingatkanku akan gadis idamanku dulu.. tidak-tidak ! Aku ingin gadis itu.. yang lehernya bagai angsa.. ,”

Wanita dikala malam memang bagai lampu penghangat rayap-rayap untuk menjamah dan mencumbui sekehendak hatinya. Dan layaknya rayap-rayap yang beterbangan beberapa saat kian kemari, lalu jatuh dan mati. Begitu halnya dengan nafsu anak-anak manusia yang tak ada bedanya dengan rayap-rayap itu, akan usai pula dalam sesaat tatkala ‘hajat syahwat’ liarnya terlepaskan…

Video

Iklan