Ngga Keburu..

Jalan sudah bagus lalu kenapa ngga keburu? Bila pertanyaan ini dijawab oleh saya tentulah beragam jawabannya. Namun dari beberapa jawaban yang ada akan bermuara pada satu hal yaitu ‘kesiangan’ bangunnya saat itu.

Rute Parung – Serpong (St KA) yang jaraknya <30 Km (sama dengan Parung – Bogor) biasanya saya tempuh dengan waktu tiga puluh menitan lebih dengan kecepatan yang wajar. Wajar yaa.. bukan gila, seperti misalnya saat melewati “polisi tidur”, kalem jalannya. Trus kalau di overtake sama nenek2, ngga panasan hatinya. 😆

Melihat waktu tempuh yang sekitar setengah jam-an itu setidaknya jam pemberangkatan 05:15 adalah waktu yang aman bagi saya mengantar istri menuju Stasiun Serpong karena seperti yang saya ketahui, dibawah jam 06 pagi ada dua CL (Commuter Line) yang standbye disana sehingga istri saya bisa memilih diantara keduanya mana yang masih lowong untuk ditumpanginya (biasanya istri saya mengambil kereta yang 06:12).

Semenjak usainya pengecoran jalan dibeberapa titik di Kabupaten Bogor setidaknya membuat waktu tempuh perjalanan (Parung – Serpong) pp menjadi lebih cepat sampainya. Rute yang saya lalui yakni: Ciseeng – Prumpung – Puspitek – Muncul – Serpong, overall bisa dilahap dengan nyamannya. Khusus Prumpung – Puspitek anda bisa mencapai top speed walau senantiasa tetap berhati-hati dengan truk-truk besar yang ikut meramaikan khasanah jalan disana.

Nahh.. pagi tadi kami kesiangan berangkatnya (ceritanya laporan nih) yakni jam 05:30 an hingga memaksa saya agak gila sedikit bawa motornya. Beruntung memang rute jalan yang saya lalui tidak ada special stage nya sehingga mulus tak ada kendala walau dibeberapa titik perempatan harus slowdown, hal yang biasa tentunya ya.

Kami tiba di St Serpong pukul 06:07. Nampak masih ada satu kereta disana. SIsa waktu 5 menit tentunya untuk mengejar kereta tersebut (pemberangkatan 06:12). Waktu 5 menit buat seorang wanita seperti istri saya tentulah bukan waktu ideal untuk mengejar kereta yang sekejap lagi berangkat. Peron stasiun yang harus dicapai dengan menaiki tangga ‘klasik’ serta antrian ‘ngetap’ kartu elektronik adalah tahapan yang harus dilalui dan kesemuanya pastinya memakan waktu beberapa menit.

Akhirnya memang sudah bisa diduga, istri saya nggak keburu mengejarnya. Sedih… 😦 Nun diujung telepon, ibu jari saya membuatkan pesan menghibur buatnya… “Bunda, masih ada kereta yang akan lewat!” 😉

~~~~~

Nb:Teringat sama judul film jadul, Arini, masih ada kereta yang akan lewat.

Iklan

5 Comments

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s