PSSI.. Antara Benci dan Rindu

Inilah akhir dari drama panjang “kegalauan prestasi” dari persepakbolaan nasional di negri ini. PSSI sebagai wadah induk persepakbolaan nasional akhirnya dengan berat hati telah dibekukan oleh pemerintah atau dalam hal ini lewat Kemenpora.

Rupanya kesabaran pemerintah sudah habis dengan melihat ketidakberesan manajemen didalam tubuh PSSI yang berdampak luas pada minimnya prestasi dari anak-anak timnas selama ini.

Prestasi yang dicapai oleh PSSI memang tak kunjung datang bahkan boleh dikata semakin mengenaskan. Kalaupun ada yang ‘fenomenal‘ itu pun sebatas pada level usia remaja (U-19) yakni tatkala Evan Dimas dkk menjungkirkan tim muda negri Ginseng Korea Selatan dan menjadi juara grup hingga lolos ke putaran final Piala Asia di Vietnam.

Lantas bagaimana kemudian sepakterjang anak-anak U-19 disana? Sayangnya harapan berlebih para penggila sepakbola tanah air menguap begitu saja. Level permainan yang sebelumnya begitu solid “saat itu hanya tinggal kenangan” dan tentunya PSSI mempunyai andil dalam hal ini.

Masyarakat pecinta sepakbola ditanah air memang sudah gerah dengan carut marutnya manajemen persepakbolaan ditanah air. Masalah-masalah yang klasik seperti transparansi semisal transfer pemain, komisi disiplin hingga jadwal liga itu sendiri yang tidak mempunyai ketetapan yang baku, selalu berubah-ubah waktu pelaksanaannya. Sangat jauh tentunya bila kita mau mengkomparasikan dengan liga-liga yang memang sudah tertata dengan rapih dan sangat profesional.

PSSI sepertinya melupakan modal besar dari persepakbolaan di negri ini yaitu penonton. Penonton seperti yang terlihat saat live pertandingan sepakbola selalu saja antusias berduyun-duyun mendatangi stadion untuk melihat tim favoritnya bermain. Penontonlah sebenarnya yang membuat PSSI tetap hidup dan berjalan selama ini.

Kini ditengah-tengah pembekuan PSSI oleh pemerintah, kepengurusan PSSI baru telah terbentuk. Namun sayangnya muka-muka lama masih saja menghiasi didalamnya. Tak ada kah orang-orang yang memang mengerti sepakbola dipercaya untuk masuk dan didengar ide-ide konstruktifnya dalam memajukan perkembangan sepakbola di negri ini?

Nasi sudah menjadi bubur, pedoman FIFA yang melarang adanya intervensi dari pemerintah terhadap persepakbolaan didalamnya, sudah tidak diindahkan lagi. Berarti pemerintah sekarang sudah pasrah terhadap apa pun keputusan dari FIFA dalam waktu-waktu mendatang.

Sumber gambar: http://kartunnya-fondy.blogspot.com

Iklan

4 Comments

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s