Pecel Lele

indexInilah salahsatu menu makanan yang sangat saya sukai. Pertama kali mengenalnya saat masih kuliah di Bandung dulu, itu pun karena ditraktir kawan kos-an yang kebetulan saat itu baru terima uang saku kiriman dari orangtuanya.

Teringat saat itu, kawan saya memesan ayam goreng sedangkan saya lebih tertarik dengan pecel lelenya karena memang belum pernah mencobanya terlebih lagi dihadapan saya nampak seorang pemuda sedang  asyik melahap pecel lele dengan “brutalnya” (baca: lahapnya). 🙄  Bayangkan coba, mulutnya masih penuh dengan timun dan  daun lalapan (yang dicocol sama sambal tentunya), tangannya kini menggapai segelas es teh manis untuk kemudian menyeruput dalam-dalam dalam beberapa saat. Nampaknya sambal pecel lele yang dinikmatinya saat itu cukup pedas, makanya pemuda ini sebentar-sebentar meminum air teh manisnya. Melihat kejadian ini saya hanya bisa tersenyum geli.

Tibalah menu sajian yang ditunggu-tunggu itu tiba, pecel lele pesanan saya kini sudah terhidang lengkap dengan sajian pelengkapnya. Seekor lele yang digoreng garing, beberapa potongan timun, daun lalapan serta sambal yang kesemuanya membuat rasa tak sabar saya untuk segera melahapnya. Lele garing itu ternyata dalemannya masih panas, saya kemudian meniup-niup daging lele yang gurih ini. Nampak asap tipis mengebul, keluar dari sela-sela potongan daging lele tersebut.

Sesekali saya mengaduh karena jemari tak kuat menahan panas akibat dari ketaksabaran saya ingin segera melahap pecel lele yang sudah terhidang didepan mata. Akhirnya kemudian potongan-potongan timun serta daun lalapan yang dicocol sambal menjadi pelampiasan saya untuk sementara sambil menunggu pecel lelenya sudah tidak panas lagi dimakannya.

Baru beberapa timun serta daun lalapannya saya cocol dengan sambal dan sejumput nasi, saya bergumam dalam hati seraya berucap, “Enak juga ya pecel lele, ini belum dicocol lele garing dengan sambalnya.

Singkatnya, momen pertama saya dalam menikmati sajian pecel lele ini membekas hingga sekarang saat dimana saya sudah mempunyai pendamping hidup. Dalam seminggu adakalanya sesekali saya membeli ikan lele hidup (nantinya lelenya dimatikan sama abangnya) yang nantinya akan diolah di rumah. Saya biasa membeli 1 kg lele yang berisi 10 ekor ukuran sedang seharga Rp18.000 (harga update). Bandingkan bila kita makan diluar, sekarang lelenya doang sudah Rp8000 ditambah lagi digoreng dengan minyak yang sudah lumayan pekat karena tentunya dipakai berkali-kali menggoreng, dari segi kesehatan tentunya ini sangat tidak baik karena minyak goreng yang cukup pekat itu dapat menimbulkan kanker pada tubuh kita.

Bila anda cukup direpotkan dengan cara membuat sambalnya (karena harus mengulek  terlebih dahulu), manfaatkan saja blender (bila anda punya), dimana kita bisa masukkan tuh semua bahan-bahan membuat sambal, seperti cabai merah, bawang merah, tomat, kacang tanah matang (kalau perlu), serta tambahkan garam dan gula secukupnya agar mendapatkan rasa sambal  yang pas dilidah kita.

Mengolah pecel lele sendiri jauh lebih sehat dibandingkan bila kita membelinya diluar rumah. Makanlah bersama-sama dengan keluarga tercinta anda dirumah. Namun ingatlah jangan semua bagian anda lahap  karena ada bagian tertentu (terutama kepala dan tulang-tulang) yang menjadi hak hewan lain yaitu kucing yang selalu mengeong-ngeong dirumah kecil anda.

Yuk… kita makan pecel lele ! 😉

Sumber gambar: www.flickr.com

Iklan

59 Comments

  1. Wah, sama, Mas! Saya juga suka pecel lele, dan itu dimulai saat SMA dulu. Pas itu saya ditraktir temen saya juga. Sebelumnya belum pernah makan pecel lele yg dijual di tenda-tenda gitu. Ternyata rasanya enak, hehe….

  2. kunci dari pecel lele ini disambelnya,kalo sambelnya enak maka enaklah,kalo sambelnya ga enak hiks ga akan enak dimakan jd makan lelenya aj…

    iyah sekarang sudah mahal pecel lele dan pecel ayam seporsi Rp.14.000..

    padahal dulu masih murah loh,dan makanan yang merakyat apalgi kalo alper malam2,karna para pedagang inilah yg masih standy bersama nasi goreng 😀

    *saya ga doyan lele mas,jadi belinya pecel ayam

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s