Akun Palsu

akunAkun palsu sepertinya akan semakin membanjiri ranah media sosial seperti Facebook maupun Twitter setelah berita mengejutkan dengan ditangkapnya seorang pemuda karena dianggap telah menghina Presiden Joko Widodo.

Pemuda pesakitan yang bernama Arsyad ini berprofesi sebagai tukang sate, dianggap telah melanggar hukum karena dengan sengaja telah memposting dan mengunggah foto yang menjurus kearah pornografi dengan melibatkan Bapak Jokowi didalamnya.

Seperti diketahui bersama, era sebelum Bapak Jokowi terpilih sebagai RI-1 di negeri ini, banyak sekali bermunculan “grup-grup keras” 😆 yang bermunculan dilaman Facebook, dimana didalam perseteruan dua kubu (kubu Prabowo versus kubu Jokowi) yang cukup sengit tersebut, terjadi saling serang, saling hujat, saling cemooh lewat komentar-komentar dari simpatisan keduanya. Biar menambah ‘hidup’ komen yang mereka sampaikan, orang-orang yang cukup cerdas dalam memainkan program edit-mengedit foto (photosop), lalu menyertakan gambar/foto-foto didalamnya yang cukup nyeleneh dan jauh dari kepatutan untuk dilihat oleh publik.

Kalau yang saya amati sekilas, pengunggah foto-foto dari kedua tokoh dalam pilpres kemarin itu kebanyakan menggunakan akun-akun palsu alias tidak jelas siapa sebenarnya orang-orang dibaliknya. Mereka (pemilik akun-akun palsu) jelas ‘berhitung’ dan hati-hati sekali dengan apa yang mereka unggah.

Berlindungnya mereka dengan akun-akun palsu tentu bisa dimaklumi, namun mengunggah foto-foto editan yang sangat jauh dari norma-norma kesantunan dan kepatutan sesungguhnyalah sangat disesalkan sekali dan membuat miris yang melihatnya. Argumentatif yang seharusnya dibangun secara cerdas oleh dua kubu saat itu, sepertinya hanya segelintir saja yang menerapkannya.

Argumentatif yang dibangun secara cerdas memang sangat dipengaruhi juga oleh pengetahuan yang didapat dari seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikannya, idealnya akan melahirkan argumentasi-argumentasi yang cukup berbobot dan bisa diterima oleh nalar sehingga komentar yang dibuatnya pun jauh dari kata-kata cemoohan apalagi kata-kata kotor yang sangat tidak pantas untuk disampaikan.

Pemuda Arsyad menurut saya, “sayangnya” begitu lugunya bermain dalam “grup keras” Facebook yang diikutinya, yaitu dengan menggunakan akun asli miliknya sendiri dan konyolnya lagi mengunggah foto yang tidak pantas seperti yang didakwakan oleh sang pelapor. Hal inilah yang mungkin terabaikan oleh Arsyad karena memang biasanya dalam debat panas dalam komentar (cenderung debat kusir dan mencemooh satu sama lainnya), seseorang itu akan cenderung ‘lepas kontrol’ dan terbawa emosi dengan komentar miring dari lawan debatnya.

Bersyukur kini pemuda Arsyad telah kembali ke rumahnya, setelah Presiden Jokowi memaafkannya. Namun walau begitu, Arsyad harus wajib lapor karena hukum yang disangkakan kepada dirinya masih terus berjalan.

Kasus bully-membully seperti ini sebenarnya kita sudah mengetahui bersama kalau Presiden Jokowi tidak hanya ‘pesakitan’ seorang diri saja karena tokoh-tokoh lainnya seperti Bapak Prabowo, Presiden SBY dan juga mantan Presiden Gus Dur (Alm) mengalami hal yang sama. Hanya saja orang-orang yang membully mereka aman-aman saja dan selamat melenggang hingga saat ini.

Jadi.. pengen juga bikin akun palsu? Buat saya pribadi, ‘terlalu mahal waktu kita untuk dihabiskan dalam “debat kusir” yang tidak jelas arahnya mau kemana.. 😉

Iklan

14 Comments

  1. berlindung dibalik akun palsu adalah para pengecut yang hanya bisa berani dibalik layar,,

    wasting time juga kalo baca2 akun akun yang demen banget provokasi..*abaikan kalo saya,smakin diladeni smakin seneng mreka ..karna memang itu yang dicari..

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s