Abang Odong-Odong

121936_odong-odong_663_382Profesi kerja informal yang satu ini sesungguhnya menjadi berkah tersendiri buat kaum ibu yang kebetulan mungkin saat itu anaknya sedang rewel berat ataupun kesulitan dalam memberi makan buah hati tersayangnya.

Bukan hal yang mudah pastinya dalam memberikan makan anak di usia balitanya mengingat kecenderungan anak-anak diusia ini adalah cepat bosan terlebih lagi bila menu makanan yang disajikan sang ibu terkesan itu-itu saja alias miskin variasi dan nihil improvisasi.ย 

Berbekal dengan kondisi seperti itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh segolongan kecil masyarakat yang berprofesi sebagai penarik odong-odong dalam misinya memberikan keceriaan buat anak-anak balita sehingga anak-anak yang tadinya rewel berat menjadi anteng dan anak yang tadinya susah mau makan akhirnya makan dengan lahapnya.:lol:

Mainan odong-odong yang sistem kerjanya mengandalkan sisi “humanisme“nya, yaitu lewat cara mengayuh (layaknya orang mengayuh sepeda) sehingga rangkaian-rangkaian yang berada didepannya pelan namun pasti akan bergerak terayun sehingga nantinya anak-anak merasa terhibur dibuatnya terlebih lagi dengan diiringi oleh instrumen musik berupa lagu anak-anak didalamnya yang semakin membuat anak terbuai saja sehingga terkadang saking terlenanya si anak sampai tidak mau diturunkan oleh emaknya (padahal makanannya udah habis.. :mrgreen:) dan ujung-ujungnya akhirnya si emaknya nambah biaya lagi. “Nggak apa-apa yach Mak.. sekali-sekali nyenengin bocah.”

Ada sisi yang menarik dari penarik odong-odong ini dimana mereka selalu menyetel lagu anak-anak yang boleh dikatakan berkualitas. Lagu semacam “Pelangi“, “Rasa Sayange” atau “Balonku” adalah lagu-lagu yang menjadi trade mark dari odong-odong itu sendiri. Tidak seperti kebanyakan yang dilihat di televisi dimana anak-anak usia balita sudah dijejali dengan lagu-lagu dewasa yang notabene bukanlah untuk konsumsi diusia mereka. Jadi secara tidak langsung penarik odong-odong telah melestarikan lagu anak-anak Indonesia yang berkualitas. ๐Ÿ˜Ž

Eksistensi dari penarik odong-odong kebanyakan berada didaerah pinggiran kota ataupun perumahan-perumahan yang bertipe “kerakyatan” atau sebut saja perumahan yang bersubsidi. Sangat sedikit atau jarang yang berada di perumahan-perumahan elit. Mungkin menyesuaikan juga dengan tingkat sosialisasi yang lebih mudah di perumahan rakyat kebanyakan ketimbang di perumahan elit. Kalaupun ada penarik odong-odong yang mampir di perumahan elit biasanya yang nemanin anak-anaknya adalah para pembantunya bukan si nyonya rumah, berbeda dengan lokasi perumahan biasa dimana justru para orangtuanyalah yang biasanya menemani anak-anaknya berada diatas odong-odong.

Sumber gambar : ureport.news.viva.co.id

Iklan

25 Comments

  1. Saya juga sangat berterimakasih kepada abang odong-odong ini karena masih menyuguhkan lagu anak-anak yang berkualitas di tengah minimnya stock lagu anak-anak pd zaman sekarang ini dan terpuruknya pangsa pasar musik anak2 saat ini dan ironis nya anak-anak sudah tau lagu buka dikit jos, iwak peyek, hamil duluan dan sejenisnya bahkan hafal berikut lirik2 nya..miris Saya,,:( tapi kadang suka kesel juga sih klo anak2 ga mau turun dari odong2 sampe rewel2 gitu..kasian ibu2 nya ๐Ÿ˜€

  2. Kalau saya kerumah nenek, ada banyak tukang odong-odong lewat dan keponakan saya pada ikutan naik. Gatau kenapa saya adalah orang yang harus mendokumentasikan moment tersebut karena disuruh orang tua nya, entah itu foto atau video -__-

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s