Pedagang Batagor

Pedagang batagor ini mangkal diatas jembatan yang sekilas kulihat air dibawahnya sudah bercampur dengan air sabun layaknya seseorang yang habis keramasan, putih dan sedikit berbusa. Jembatan itu sendiri merupakan jembatan beton yang cukup lebar, dimana dua buah mobil bisa saling berpasasan satu dengan lainnya.

Aku baru saja memarkirkan motor ku disana. Diatas jembatan itu. Ada bangku kayu memanjang sekitar 1,5 meter, tak jauh dari gerobak si pedagang. Kebetulan kosong sama sekali, tak ada orang yang duduk-duduk di bangku panjang itu. Syukurlah fikirku.

Ada tulisan besar-besar pada gerobak si abang pedagang. Tulisan yang nampak seadanya, sekedar pemberitahuan kepada para pembelinya.. BATAGOR.

“Bang.. bikinin 5000 ya, jangan di piring, pakai plastik aja..” pesan ku pada si pedagang.

Kedua tangan cekatan si pedagang lalu mulai menari-nari, memotong penganan batagor menjadi beberapa potong remahan yang ukurannya cukup pas di mulut kecil ku.

Tadinya aku membayangkan, pesan batagor di plastik berarti cara memakannya pun model ala nyedot es mambo, es kegemaran ku saat kecil dulu ketika istirahat jam sekolah dimulai. Rupanya si abang pedagang cukup cerdas dalam menarik konsumennya, wadah plastik yang berukuran 1/2 kg dimana berisi potongan-potongan batagor itu, didalamnya disisipi sebatang bambu tipis ala tusukan sate. Bambu tipis inilah yang menggantikan peran sendok yang biasa dipergunakan saat makan.

Sambil melahap satu demi satu remahan batagor, aku mulai mewawancarai si abang pedagang layaknya seorang reporter jalanan.

Dari ceritanya dia mengatakan bahwa dia berasal dari Majalengka Jawa Barat. Aku sempat menyinggung kota Kadipaten, dekat kah dengan kota itu? “Masih jauh Bang.. saya mah di kampungnya lagi.”

Saya bersyukur dagang disini karena tidak seperti ditempat yang terdahulu (dia menyebut daerah Meruya – Jakarta Barat), dimana saya harus merogoh kocek sekian juta untuk bisa berdagang disebuah tempat dipinggiran jalan. Disini saya cukup membayar 200 ribu saat pertamanya kepada bos perparkiran diwilayah ini. Dan itu hanya sekali saja saya membayarnya.

Aku sempat tidak percaya ketika si abang pedagang merasa tidak pede bila berjualannya secara keliling. Dia lebih menyukai berdagang secara menetap seperti yang sudah-sudah dia jalani (sebelumnya si abang jualan siomay). Alasannya bila berdagang keliling, dia merasa tidak enak hati saat ada pembeli yang memanggil dagangannya sementara saat itu ada pedagang lain juga yang dekat dengan posisinya. “Saya jadi malu dan serba salah,” tandasnya.

“Saya ini dahulunya sebenarnya berjualan siomay bukan batagor, cuma saya sering memperhatikan kawan sebelah saya yang kebetulan memang berdagang batagor. Saat itu saya sesekali suka mengamati bagaimana kawan saya membuat batagornya,” ceritanya lagi.

Dalam hatiku si abang pedagang ini lagi-lagi cukup cerdas dalam mengamati keadaan sekelilingnya, dengan memberanikan diri mencoba model lain dari dagangan yang dijualnya, yakni membuat batagor sendiri sekaligus menjualnya.

Baru pertama membuat batagor, namun rasa batagornya cukup renyah dan membuat aku yang menikmatinya rasanya pengen nambah lagi barang 5000.

Bang.. bikinin 5000 lagi, saos ama kecapnya dikit aja.. !” 😊👌

#belakang kantor Walikota Jakarta Timur menjelang senja..

Iklan