Rumah Tua

Ini bukan seperti gambaran rumah tua yang ada didalam film-film horor yang suasananya begitu creepy. Tak ada itu sumur tua seperti yang kita pernah liat dalam film 1922, tak ada itu pohon-pohon tua besar yang ranting-rantingnya menjuntai, menggelayut laksana tali-tali liar yang siap menjerat siapa pun yang melewati dibawahnya ala film The Conjuring, tak ada itu lonceng waktu yang berdentang saban jamnya seakan memanggil-manggil ‘penghuni lainnya’ dalam rumah itu dan tak ada itu ‘lobby-lobby‘ antar kamar yang bak ruang kosong dengan penerangannya yang serba temaram.

Rumah tua milik kami, yakni milik aku dan adik-adikku adalah rumah tua yang ‘minimalis’, dimana saat kami berkumpul dan menginap disana masing-masing dari individunya harus rela tidur seperti ditenda-tenda pengungsian, saling berjejal, tak beraturan antara mana posisi kepala atau pun kaki yang ideal. Tapi nampaknya adik-adikku dan aku sendiri begitu menikmati kelelapannya di malam-malam menginapnya. Khusus adikku, dengkurannya acapkali membuatku frustrasi karena ketidakberdayaanku dalam memejamkan mata secepat adik-adikku. Aku memang sulit untuk memejamkan mata bila tidur bukan di rumah ku sendiri.

Dahulunya sewaktu ibu ku masih ada, rumah tua itu tentu saja penuh dengan kehangatan, keriangan, serta senda gurau dari anak-anaknya dan juga cucu-cucunya. Namun sejak tiga bulan yang lalu, yakni tatkala ibu ku yang amat aku sayangi dipanggil Sang Khalik, rumah tua itu seakan hampa rasanya. Aku dan adik-adikku benar-benar merasa kehilangan orangtua yang selama ini telah mengajarkan kami untuk selalu akur dan saling tolong menolong sesama saudaranya.

Kini rumah tua itu kosong dan hanya sesekali adikku menginap disana. Rumah tua itu hanya kembali ramai saat weekend, yaitu hari Sabtu ataupun Minggu ketika kami bersama keluarga masing-masing menginap dan berkumpul disana. Kami ingin membuat mendiang kedua orangtua kami, yakni ayah dan ibu ku senantiasa tersenyum disana melihat anak-anaknya saling menjaga silahturahminya satu dengan lainnya.

Cukuplah rumah tua itu kini menjadi base-camp kami berkumpul tatkala kami menginap disana. Kami ingin bersama-sama melantunkan doa-doa terindah buat kedua orangtua kami agar mereka ditempatkan ditempat yang terbaik oleh Rabb Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Love you.. ayah dan ibu ku !!!

Sumber video

Iklan

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s