Musik Instrumental

musikAlunan instrumental dari lagu “If we hold on together” begitu lembut sekali terdengarnya ditelingaku sehingga dinginnya malam belum mampu membuat mataku mengantuk. Sementara diruang kamar disudut yang lainnya, istriku sudah larut dalam dekapan malam yang begitu hening tanpa ada suara-suara jangkrik ataupun hewan lainnya. Hujan sepanjang siang tadi rupanya membuat hewan-hewan itu pun enggan untuk keluar dari persembunyiannya.

Kini suara yang ada hanyalah hentakan jari-jemariku yang menari-nari diatas keyboard. Untunglah yang aku “injak-injak” lewat jari-jemariku hanyalah sebuah benda mati. Coba bayangkan kalau benda hidup tentunya akan ada suara-suara protes didalamnya, baik itu mengaduh ataupun kegelian, yang tentunya bisa membuat istriku terbangun mendengarnya.

Alunan musik lembut (sengaja dipilih yang instrumental) yang kita perdengarkan ditengah malam memang sedikit banyak membuat mata ini untuk selalu “on”. Dengan volume yang diatur tak terlalu keras dan tak terlalu juga kecil, alunan musik instrumental sebenarnya sangat pas untuk menemani aktivitas kita disaat itu. Entah itu belajar (dalam hal ini membaca) ataupun membuat laporan pekerjaan yang kita jalani.

Memang tidak semua orang cocok dengan metoda belajar sambil mendengarkan alunan musik. Tapi buatku yang sudah terbiasa tidak menjadi masalah tentunya. Walau sempat juga memang pada saat misalnya membaca materi pembahasan yang cukup serius, aku off kan dulu musiknya untuk kemudian selanjutnya di on kan kembali. :mrgreen:

Alunan sebuah musik (instrumental) yang cukup lembut tentunya akan membuat seseorang betah duduk berlama-lama dengan aktivitasnya saat itu. Makanya tak aneh bila ada beberapa toko buku besar di Jakarta yang kerap memperdengarkan musik instrumental bagi para pengunjungnya.

Aku masih ingat dengan salahsatu toko buku besar yang ada di Matraman sana, dimana sewaktu masih berseragam abu-abu, suka sekali aku mampir kesana untuk sekedar membaca-baca buku yang ada. Seringnya sih melihat majalah ataupun komik-komik seperti Petualangan Tintin, Roel Djikstra (komik sepakbola) atau buku-buku humor yang sering sukses membuatku tertawa sendiri karena memang ceritanya yang mengocok perut kita.

Betah rasanya berlama-lama saat itu, apalagi ditambah dengan alunan instrumen dari beberapa lagu lembut yang sudah familiar ditelinga kita. Untungnya saat masih berseragam abu-abu waktu itu, aku belum mengenal yang namanya wanita secara dekat. Jadinya alunan musik instrumental yang bernada lembut itupun tidak membuatku galau layaknya seseorang yang teringat dengan pasangannya. 😆

download musik instrumental

Iklan

11 Comments

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s