Aku Anak Kampung

Aku memang anak kampung yang jejaknya terlahir dipemukiman yang cukup padat penduduknya disudut timur dari kota Jakarta. Kata almarhum ibuku, dahulunya ada rumah sakit/klinik didepan lapangan Jendral Urip dan letaknya juga berdekatan dengan gereja Koinonia, disanalah aku dilahirkan.

Tempat main ku adalah lapangan kuburan yang kala itu masih sedikit orang-orang yang dimakamkan disana. Kala itu kuburan hanya ada dipinggir-pinggirnya saja, sementara ditengah-tengahnya masih kosong melompong. Dari sanalah orang-orang dewasa kala itu berinisiatif membuat lapangan sepakbola sederhana dengan tiang-tiang gawang sederhana pula.

Kedua kaki ku yang masih kecil dan belumlah kuat menendang bola kulit, cukuplah menjadi penonton setianya disana. Kadang pula saat ada pertandingan sepakbola yang gegap gempita dengan suara teriakan dan cemooh penonton didalamnya, aku seringkali mengacuhkannya. Aku lebih senang memilih bermain-main diatas makam dan memetik buah-buah kecil entah buah apa itu namanya yang tertanam diatas pusara-pusara itu.

Pohon buah kecil itu sepertinya memang menjadi ikon layaknya pohon kamboja yang selalu ada disetiap tanah pemakaman. Bila pohon kamboja bisa tumbuh membesar, namun pohon yang satu ini layaknya pohon bonsai yang keberadaannya sebagai ‘penyejuk’ dari orang-orang yang terlelap didalam pusaranya.

Usai bermain dilapangan kuburan, aku juga seringkali bermain ‘peluncuran’, dimana tanah menurun yang akan aku lalui bersama dengan kawan lainnya sengaja dibasahi oleh air (kali), saat mana nantinya aku meluncur kebawahnya. Satu dua kawanku ada yang tak memakai pakaian sehelai pun, sementara aku cukup bertelanjang dada saja dengan celana pendek yang masih menempel.

Kami saling mendorong disana dan tak jarang saat kami meluncur, suara khas anak-anak yang sedang bahagia meletup-letup.. lagi dan lagi.. “Yeayyy.. yeayyy… byuuurr.. Aku dan kawanku tak begitu mempedulikan seperti apa dan bagaimana bau air kali dikala itu.

Tiba di rumah, siap-siap dengan cubitan ibu yang akan menyinggahi pahaku dikiri-kanannya. Aku seringkali mengaduh-aduh kesakitan sambil menggeliat karena tak tahan dengan cubitan ibu ku. Namun usai memuaskan dahaga mencubitnya, ibuku biasanya membuatkanku makanan yang aku kusukai. Ada penyesalan mungkin dalam bathin ibuku. Inilah yang disebut orangtua, selalu dan senantiasa bersemi rasa kasih dan sayang terhadap anak-anaknya…

~~~~~

Bila anda masih mempunyai ayah dan ibu, bersyukurlah.. sayangi mereka dan bahagiakanlah mereka, bila tidak bisa dengan materi, dekaplah mereka dengan suara, senyuman dan kehadiran anda di rumahnya.

Sumber video

Iklan

2 Comments

  1. kangen masa kecil yaa, masa yang indah yg abadi tak lekang ditelan jaman,

    atuhlah itumah bukan kampung , anak kota hahaha, sekarang berubah dratis ya jakarta timur tempat dirimu tinggal?

    btw dari dulu kuburan di jakarta itu emang ga serem ya? buat maen,
    kalo dikampung akumah kuburan tetep serem, ga ada yg maenan disana sampe sekarang , ni anak kampung asli 😀

    • Haii.. @harumhutan, trims sdh singgah lagi disini. Jakarta tempo dulu adalah kampung bagiku. Senang mengingat2 masa kecil sekaligus menstimulasi memori utk trus mengingat sesuatu yg menyenangkan.

      Soal kuburan di jkt tetap seremlah bila mainnya mlm2 disana. Tapi mmg sih yg di jaktim ini kuburannya sdh ramai dgn adanya pemukiman ddktnya yg sdkt bnyk menghilangkan kesan angker ddlmnya.

      Mb @Wiend mmg dimana kampungnya?

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s