Sorry… Bang !

Lucu rasanya membayangkan saat aku pernah “mengerjai” abang pecel lele yang biasa membuka warung tendanya dipinggir jalan. Awal ceritanya yaitu saat aku mampir hendak memesan pecel lele yang memang menjadi kesukaanku. Kondisi perut yang sudah lapar saat itu membuat aku mengurungkan niat untuk pulang segera ke rumah dan lebih memilih masuk ke sebuah warung tenda dipinggir jalan.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, begitulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan suasana didalam warung tenda tersebut. Belum ada pengunjung seorang pun, yang ada hanya seorang lelaki gemuk, yang sepertinya merupakan pemilik warung tenda yang aku masuki. Keadaan sepi pengunjung ini membuat hatiku sumringah membayangkan sajian pecel lele yang akan segera aku nikmati.

Segeralah tanpa menunggu lama, kemudian aku memesan seporsi pecel lele. Setelah diiyakan, tak lama abang pecel lele lalu memberikan minuman sebagai penghapus dahaga ku. Namun sayang, minuman teh pembuka ini airnya cukup panas sehingga membuat mulut ku acapkali meniup kedalam gelas berharap airnya segera adem. Agak jengkel juga aku saat itu karena tidak bisa meminum dengan segera padahal aku cukup haus saat itu. Tadinya aku mau mau ngeledekin tuh abang pecel lele, “Bang.. ada yang lebih “dingin” ngga airnya.. !” 😀

Menit demi menit pun berlalu dengan cepatnya. Aku melihat dari atas tempat duduk ku, abang pecel lele ini masih berusaha mengambil lele hidup yang ada didalam sebuah baskom besarnya. “Clak…clak..” nampak terdengar bunyi ikan lele yang bergerak-gerak hendak ditangkap oleh abang pecel lele tersebut. Aku tak begitu peduli karena yang aku tahu memang seharusnyalah seperti itu, ditangkap lalu digetok hingga mati kemudian dilumuri oleh bumbu-bumbu yang sudah dipersiapkan, baru kemudian digoreng hingga matang dan garing.

Kembali aku meniup teh panas yang tersaji didepan mataku dan kembali suara “clak.. clak” terdengar ditelingaku. Sementara itu perutku sudah semakin “berevolusi” lewat suara vokalnya yang cukup menandakan kalau ini harus segera diisi kalau tidak asam lambung ku akan segera naik dan perutku menjadi ‘begah’. Aku mulai gelisah karena pesananku tak kunjung kapan akan diantar oleh abang pecel lele ini.

Saat kembali bunyi “clak.. clak”, kesabaranku sudah memuncak hingga aku diam-diam tanpa sepengetahuan abang pecel lele, aku pun pergi  meninggalkan warung tendanya. Sambil menahan jengkel dan kesal karena menunggu lamanya pesanan, aku pun bergumam dalam hati, “Udah… latihan dulu deh bang ye cara nangkap lele yang bener, ntar kalo udeh dapat tuh lelenya, gw kemari lagi deh bang.. “

Aku lalu terus menjauh dan meninggalkan warung tendanya. Tak bisa membayangkan rasanya ketika abang pecel lele sudah berhasil mendapatkan lelenya namun pelanggannya sudah tak nampak lagi batang hidungnya alias kabur…

Kampret.. tuh pembeli, udah sampe keringetan begini gw nangkap lele tapi pas udahannya malahan kabur ngga tahu kemana

……….. 😆 😆 😆 :mrgreen: :mrgreen:

Iklan

7 Comments

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s