Tukang Sate Pikulan

Ditempat tinggal saya sekarang yakni dipinggiran kota Bogor (Parung) masih kerap kita menjumpai tukang sate pikulan walau memang tidak banyak jumlahnya. Biasanya jam kerja keliling mereka selepas waktu Ashar atau kira-kira pukul 3-an sore. Ada pun Jenis sate yang mereka dagangkan kepada konsumennya biasanya tidak jauh-jauh dari sate ayam (sate ayam ya.. bukan sate landak.. soalnya buang durinya aja udah bikin stress si abangnya katanya) 😆 ataupun sate kikil dengan bumbu kacangnya yang memang sudah kekhasannya turun temurun.


Melihat tukang sate pikulan dengan asesoris dagangannya yang begitu sederhana seakan membawa bayangan kita akan masa lampau, saat dimana beberapa tukang dagang sejenis lainnya yang juga menggunakan alat pikulan dalam menjajakan barang dagangannya, berkeliling keluar masuk kampung dan gang-gang kecil yang ada. Dari beberapa tukang dagang yang menggunakan pikulan tersebut, sebut saja mereka diantaranya: tukang krupuk, tukang kue putu, tukang sekoteng, maupun tukang rujak bebeg. Untuk yang terakhir ini kita sepakat bahwa tukang rujak bebeg merupakan tukang dagang yang masih mempertahankan ‘edisi masa lampaunya’.

Mengapa saya menyebut tukang rujak bebeg mempertahankan ‘edisi masa lampaunya’? Tak lain tak bukan karena dari semenjak dahulu hingga kini tukang dagang ini mewariskan budaya sehat yakni dengan berjalan kaki dalam menjemput rezeki dari Rabb-Nya. Belum pernah rasanya saya melihat tukang rujak bebeg yang menggunakan sepeda maupun motor saat berkelilingnya.

Namun kini sepertinya ada yang berubah dari tukang sate pikulan (mungkin ini subyektif saya lho..), dimana bambu sate yang menusuk potongan-potongan kecil dagingnya (ayam) terlihat semakin langsing alias tipis, tidak ‘sekokoh’ tusukan sate di masa-masa dahulu. Tak hanya itu saja, dagingnya pun sekarang terlihat kecil. Sekali lagi ini khusus buat tukang sate pikulan ya.. jangan disamakan dengan tukang sate madura yang menggunakan gerobak keliling/stay ditempat yang masih terlihat tidak ada perubahan berarti terhadap tusukan satenya maupun dagingnya itu sendiri.

“Market place” dari tukang sate pikulan itu sendiri biasanya muncul pada tempat-tempat/daerah yang ramai oleh anak-anak karena memang sate pikulan ini sesungguhnya memang sangat digemari oleh anak-anak, dari itu yang harganya murah meriah serta juga bumbunya yang menyedapkan katanya (anak-anak). Namun rasanya terlalu naïf juga bila tukang sate pikulan hanya digemari oleh anak-anak karena orang-orang dewasa pun terkadang ngiler juga untuk merasakan sensasinya, yakni (maaf..) menjilati bumbu-bumbunya sampai tetes yang terakhir. 😆

Terakhir, mengutip sebait lirik lagu dari Iwan Fals, “Inilah manusiaa… dengan sgala macam warna hidupnyaa.. tuk mencapai tujuan, smua jalan ditempuhnyaa… (respek buat semua tukang-tukang dagang, dan terlebih buat mereka yang memikul barang dagangannya).

Nb: maaf.. no photos (lagi hujan, abangnye gag nongol.

Iklan

6 Comments

  1. Jadi pengen sateeee, hehee.
    Meski di sini engga ada sate pikulan yang terlihat, di mana-mana ku berjalan. Ada pun sate gerobak. 😀
    Terima kasih sudah mengingatkan pada sate, sure aku jadi pengen makan sate, dech.

  2. di tempat aku juga masih ada tukang sate pikulan, pas pindah sempet kaget kok ada tukang sate pake pikulan…

    kalo pas ramadhan sampe saur jualannya, tee..sateee..

    tapi aku juga jarang beli sih 😀
    ~~~~~~~

    Ditempat sya sesekali msh suka terlihat. Kapan2 ingin nyobain beli sekaligus ‘interview’ si abangnya. Mo nanya apakah punya sendiri ato ada juragannya, trus brp tusuk sbn hari bwnya, dn pertanyaan lain2nya.. 🙂 #udahniat #wartawandadakan

    Trims ya

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s