Es Mambo Emak

“Es…es.. es mambonya mbah.. !” (sengaja nawarin mbah-mbah yang lagi asyik duduk dibale-bale  sambil dengerin lagunya Yovie & Nuno di radio jadulnya … mbahnya lagi ngegalau kayak nih… :lol:)

Ngga tong !” Mbah udah ngga punya gigi, coba lihat nih.. (sambil menunjukkan giginya yang sudah pada ompong). Setengah terkejut dan sambil menahan haru (lebih tepatnya menahan tawa) kemudian saya berucap, “MasyaAllah, mbah bener-bener udah “oldiest” yah..

Apa itu tong oldiest ?” tanya si mbah penasaran.
“Ngga mbah, “oldiest” itu hanya sebuah istilah yang menandakan bahwa seseorang itu sudah memasuki usia tua dan beberapa alat pengindranya, termasuk indera pengecap sudah mulai berkurang fungsinya,” ujar saya dengan entengnya.

“Trus kalo loe udah tahu, mbah udah tua, napa loe nawarin es begituan ke mbah ?” tanya mbah dengan nada kesalnya.

Gini mbah, saya tuh nawarin es mambo ke mbah sebenarnya bukan dikonsumsi ama mbah tapi buat cucu-cucu mbah yang lagi pada main gundu disana tuh.. jawab saya kemudian sambil menunjuk sudut lain dari halaman rumah mbah.

“Tahu ngga mbah ? Es mambo bikinan emak saya insyaAllah ngga membuat sakit orang karena bahan-bahan olahannya juga yang alami. Gulanya, gula asli bukan gula biang yang seringkali beresiko membuat sakit tenggorokan kita. Kacang hijau (es kacang hijau) yang biasa dibeli sama emak saya juga bukan yang asalan tapi yang kualitas bagus, yang kalo beli di pasar seperempatnya sekarang Rp 4500, trus untuk ketan hitamnya (es ketan hitam) juga sama kualitasnya dengan kacang hijau.

Selain itu, es mambo bikinan emak saya steril dari pengawet sodium yang para pedagang biasa memakainya. Btw.. mbah tahu kan, apa itu sodium ?!, itu lho mb, salah satu bahan pengawet yang bisa mengawetkan makanan (termasuk es) dalam beberapa hari. Lha.. ini kan sama saja dengan meracuni orang. Emak saya ngga mau meracuni orang. Kata emak, biarlah untung ngga seberapa yang penting berkah rezekinya,

Mendengar penjelasan saya yang berapi-api kemudian si mbah berkata, “Emak loe pedagang yang jujur, dia tidak mencari keuntungan semata namun lebih jauh dari itu, emak loe lebih mengerti apa arti hidup didunia ini karena setiap amalan kita sekecil apapun akan dipertanggungjawabkan di hari akhir nantinya. Beruntung loe punya emak seperti itu apalagi di jaman sekarang yang kata orang pada bilang jamannya sudah edan. Loe harus sayang sama emak loe, tong !” Ok deh tong, mbah beli es mambonya 5 biji buat cucu-cucu mbah, semoga dagangan loe dan usaha emak loe terus berkembang dan tetap menjadi pedagang yang jujur.

“Aamiin... !” jawab saya dengan segera.

“Mbah, ngomong-ngomong lagunya enak juga ya…. mbah ini penggemarnya Yovie & Nuno rupanya... 😆

salam blogger !

nb: tulisan ini hanya rekaan penulis semata, semoga menghibur dan ada manfaatnya !

Iklan

19 Comments

  1. sebuah ironi dalam kehidupan nyata di masyarakat kita,ketika kejujuran dalam berusaha berbenturan dengan keinginan mendapatkan keuntungan pribadi..
    semoga masih ada para orang orang yang jujur dan tidak mencari untung semata..

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s