Aura Film Horor

Anda penyuka film-film horor? Dimana anda menontonnya? Di gedung bioskopkah atau di rumah seorang diri?!

Bila jawabannya di bioskop berarti anda harus meningkatkan lagi nyali anda dalam menonton film bergenre nakut-nakutin ini. Sama halnya dengan anda yang menonton sendiri didalam rumah sambil ditemani oleh sebungkus Β cemilan kecil.

MV5BMTM3NjA1NDMyMV5BMl5BanBnXkFtZTcwMDQzNDMzOQ@@._V1_SX214_http://www.imdb.com/

Menonton film horor didalam gedung bioskop biasanya “euforia ketakutan” baik itu momen kaget bareng-bareng ataupun menutup mata (yang ini gag bareng-bareng sih, biasanya hanya segelintir orang yang memang penakut) aura ketakutannya hanya terjadi pada saat itu saja (saat menontonnya), bila sudah keluar dari dalam gedung bioskop terus disambut cahaya terang diluar kemudian ngisi perut ama semangkuk bakso yang ditraktir sama kawan atau pasangannya, sudah pasti yang namanya ketakutan tadi hilang lenyap tak berbekas.

Sama halnya dengan mereka yang menonton film horor sendirian di rumah. Terlebih keberadaan rumahnya cukup ramai dengan lalulintas tukang dagang, entah itu tukang nasi goreng, tukang sekoteng atau tukang sate yang kesemuanya biasa bergerak pada jam malam (pukul 21.00 hingga dinihari)

Aura keseraman serta kengerian tentunya akan “terputus” bila saat adegan menegangkan tiba-tiba anda mendengar teriakan diluar “sateee.. !” atau suara penggorengan yang dipukul-pukul oleh tukang nasi goreng … ngga seru kan.. ! (lha suster ngesotnya aja sampe gag jadi ngesot pas ngedenger teriakan “sateee.. !” hehehe πŸ˜†

Beberapa film horor yang pernah saya tonton macam Death Souls (2012) ataupun yang masih anyar seperti The Conjuring (2013) yang mengambil settingan lokasi didaerah pedesaan atau lahan pertanian (ini salah satu yang saya sukai) lebih memberikan sentuhan lain buat film horor itu sendiri
.

Menonton kedua film horor tersebut jauh lebih menggigit bila anda menontonnya dipelosok pedesaan/perkampungan yang masih asri. yang saban sore hari kabut sudah menyapa Β anda, yang saban tengah malam masih suka terdengar longlongan srigala hutan (bukan anjing loe.. !), yang jarak antar rumah saling berjauhan, yang penerangan lampu ditiap-tiap rumahnya begitu romantis (baca: minim cahaya), yang letak rumah dengan kamar kecilnya cukup jauh harus melewati pohon-pohon besar macam beringin (gag kebayang yaa… belakang jamban ada pu’un beringin… gag sekalian aja disitu juga berdiri areal pemakaman… )

Nahh.. bila sahabat blogger suka berlibur ke desa, saatnyalah membawa film Death Souls atau The Conjuring untuk ditonton disana. Namun pemutarannya janganlah pada saat anda baru tiba, tunggulah beberapa hari. Kalau perlu anda munculkan dulu rasa seram lewat cerita-cerita penduduk setempat yang anda gali kemudian anda survey lokasinya kemudian.
.

Fillm horor bagaimanapun itu seramnya tetap hanyalah sebuah hiburan semata yang memang dikemas untuk menghibur para penontonnya. So….kenapa kita harus takut dengan film ini ! πŸ˜‰

nb : awas dengan film The Conjuring, teriakan “satee... !” gag mempan. Filmnya memang pantas dapat rating yang cukup bagus… keren !

Salam blogger !

Iklan

38 Comments

  1. Film Horor Mama kurang bagus menurut saya πŸ™‚
    Film The Conjuring, saya sudah nonton, bagus banget. Walau kurang seram. Ya mungkin karena itu tadi, nontonnya bukan di desa πŸ˜€
    Saya akan coba download Death Souls πŸ™‚

  2. Wah, saya punya kopian filem “conjouring” itu. Tadi belum tertarik sih untuk menontonnya.
    Cuma setelah baca blog mas “horror” satu ini, saya jadi penasaran. πŸ™‚ (kaya iklan filem)
    Jangankan diminta untuk pergi ke pedesaan, yang saya nontong rame2 aja di kota besar udah ngerasa gimana gitu. πŸ™‚

  3. ga sukaaaaaa film horor..

    tapi tetep nonton juga

    kmaren nonton ini kaget kaget mulu dan tutup mata,nyebut mulu astagfirlooh πŸ˜€

    aduuh bikin sport jantung ajaaaaah..

    iyah tu dipedesaan yang jauuh dari mana mana yg masih banyak pohon besar yang sunyi senyap mantab itu nonton film horor*tapi aku ga akan mau πŸ˜›

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s