Indahnya Naik Bemo

154629_bemo-transportasi-legenda-jakarta_663_382

sebuah bemo nampak dari depan dan belakangnya 

“Ayo mak masuk aja kedalam, masih lega tuh, apalagi mak turunnya terakhir kan?”, pintaku dengan sedikit memaksa. Dalam hatinya mungkin si mak bergumam, “kayak tahu aja loe tong, gw turun terakhir”. 😆

Aku sendiri posisinya dipinggir saat itu, biar gampang turun dan pastinya aku bisa leluasa menghirup udara bebas. Sebelumnya karena angkutan yang dinamakan bemo ini lumayan sempit ruang antar duduknya sehingga tak ayal saat kita duduk, lutut kita akan bersinggungan dengan lutut penumpang yang ada dihadapan kita. :mrgreen:

Aku memang sengaja menghindari masuk lebih kedalam di angkutan bemo ini karena aku ngga mau “tersandera” oleh aroma-aroma dadakan yang nantinya membuatku mual. Apalagi angkutan bemo yang dulunya kerap aku pakai, pangkalannya ada di Pasar Klender yang tentunya banyak si mbok-mbok pedagang. Lain soal kalau yang naik si mbok pedagang sayur, namun cukup tersiksa manakala yang naik itu si mbok pedagang ikan. Udah bakulannya bau amis terus ditambah lagi ama aroma selendang sutranya yang ikutan amis juga ( maaf ya mbok… peace ! ). 😆

Kalau situasinya seperti diatas, tentunya lebih enak duduk dipinggir bukan..? Selain bisa memandang jalan mungkin kita juga bisa dadah-dadahan sama kawan, sodara, tante, om yang pada saat itu kebetulan sedang melintas dibelakang bemo yang kita tumpangi.

Bemo yang merupakan produksi dari negeri Sakura, pada awal peruntukkannya sebenarnya untuk angkutan barang namun entah mengapa setelah tiba di Indonesia pada sekitar tahun 1962 pada posisi belakangnya diberikan tempat duduk yang sudah barang tentu membuat sempit antar ruangnya. Kedatangannya sendiri pada waktu itu berkaitan dengan adanya penyelenggaraan Ganefo di Jakarta.

Waktu masih di Pondok Bambu, angkutan bemo ini biasa melayani trayek Ps Klender – Pangkalan (sesudah tiptop yang baru) atau Ps Klender – Kavling (Komp Perumahan TNI AL) sedangkan di daerah lainnya yang aku tahu ada di Benhil (Bendungan Hilir) Jakarta Pusat.

Kalau saja bemo seperti mikrolet sekarang mungkin bisa full music kali ya…dan jangan-jangan bisa request lagu nie ama supirnya…

Ok dech…buat bang Jali yang lagi asyik di bengkelnya, mpok siti yang lagi ngulek cabe buat sambel nasi uduk ntar malem…dan neng Mira yang masih aja terus nguber-nguber dosennya buat skripsinya…nie ada musik buat nambahin semangat beraktivitasnya 😉

sumber gbr : foto.news.viva.co.id

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Bemo

Iklan

20 Comments

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s