Semur “Lope”

Buat anda para pecinta makanan bersemur (semur tahu, semur tempe, semur rendang dan semur-semur yang lainnya), boleh jadi anda belum mengenal dengan istilah semur “lope” walau mungkin sebenarnya diantara anda ada yang pernah menikmati kuliner beraroma ini bahkan mungkin menggilainya.

Semur “lope” merupakan istilah yang semata-mata saya berikan untuk makanan yang begitu legend bagi para penyuka kuliner arus bawah, yaitu “semur jengkol“. Semur ini saya istilahkan dengan semur “lope” karena bentuknya saat sudah digeprek nampak seperti bentuk hati atau “love” (bahasa gaulnya = lope). Coba amati deh (pake kaca pembesar)… walau memang sih bentuk hatinya agak dipaksakan alias tidak sempurna. :mrgreen:

Berbicara mengenai semur “lope” biasanya makanan ini menjadi trade mark warung makan kaum marjinal yaitu warteg. Jarang sekali rasanya warteg yang tidak menyediakan semur “lope” atau semur jengkol ini. Mungkin hanya dalam keadaan force major saja gerai warteg absen dengan semur jengkolnya seperti tatkala beberapa bulan yang lalu dimana harga jengkol sempat menyentuh level psikologis dan mampu bersaing untuk pertama kalinya dengan harga daging ayam. Fantastis bukan.. ?!

Bila melihat tinjauan sosiologisnya, para konsumen semur “lope” biasanya para pekerja informal yang biasanya tidak bersentuhan dengan dunia perkantoran sehingga tak jarang seusai mereka menyantap dengan nikmat semur jengkolnya, mereka langsung bisa ber-haha-hihi tanpa beban layaknya mereka menyantap daging bistik saja.

Lantas apakah pekerja formal tidak menyantap makanan berbau naga ini ? Menurut saya pekerja formal yang menyantap semur jengkol biasanya dilakukan saat dia kebetulan melakukan tugas luar dan tidak balik lagi ke kantor atau bisa juga dilakukan oleh mereka yang memang benar-benar “lope lovers“. Namun khusus yang terakhir cenderung dilakukan oleh pekerja formal level bawah.

Saya sendiri sebenarnya bukanlah pecinta semur “lope” mengingat kontribusi dari makanan ini cukup mengganggu hubungan relationship, baik itu hubungan bilateral (antar pasangan) maupun hubungan multilateral (sosial kemasyarakatan).

Coba bayangkan, masa sih anda tega, saat menjelang apel malam minggu, anda melahap dulu semur jengkol di warteg pinggiran jalan, ntar bisa-bisa pasangan anda akan bertanya serius kepada anda, “Bang, pake farfum apa sih mulutnya, kayaknya Neng familiar deh… wkwkwk πŸ˜† :mrgreen:

Bayangkan juga, apakah anda rela melihat pandangan saling curiga mencurigai antar jamaah didalam toilet sebuah mushola/masjid karena ada aroma tak sedap semur jengkol didalamnya.

Makanlah dengan bijak apa yang anda makan. Namun tentunya juga harus peka dengan situasi dan kondisi yang ada di masyarakat. Janganlah karena bau mulut yang diciptakan sendiri oleh anda, anda tiba-tiba menjadi sosok manusia pendiam, diam seribu bahasa, speechless.

#####

nb : maaf tanpa ilustrasi gambar, soalnya di post lewat hp dengan browser Opera Mini 7 :mrgreen:

Iklan

67 Comments

  1. Belum pernah makan jengkol, hehe, klo pete pernah, agak heran juga kenapa banyak sekali yg suka masakan jengkol ini. Klo di suruh milih antara jengkol dan rendang daging, sudah pasti saya pilih daging, hehe

  2. suka sihhh,,,tapi resikonya itu loh…
    kira2 ada gak ya gimana caranya agar gak beraroma?
    siapa tau ada tekhnologi gitu yang bisa membuat penikmat jengki lebih leluasa dan tidak khawatir dengan aroma2 setelah itu hehe

  3. Tentang semur lope ini, saya jadi ingat seseorang yang juga suka sama makanan lope ini.. Hanya saja waktu itu tidak dibuat semur.. si lope dibiarkan digoreng lepas saja. Duh.. baunya >_<
    Mungkin, satu hal yang perlu diingat bahwa kalau sedang makan ditempat umum, minta izin dulu lah sama orang yang akan makan di sebelah tempat duduk kita.. seperti seseorang itu… "Boleh ya makan lope?" dengan wajah dibuat memelas dan mata malaikat.

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s