Pohon Jamblang dan Nasi Ulam

Masih terekam kuat didalam ingatan saya, kala itu di waktu pagi, orang-orang banyak yang bergerombol, mengantri dibawah sebuah pohon jamblang yang cukup kokoh dengan buahnya yang acapkali berjatuhan karena sepertinya sudah terlalu matang di pohonnya.

jamblang

planetkurikuri.wordpress.com

buah jamblang

iyapuspa.blogspot.com

Orang-orang yang mengantri dibawah pohon jamblang itu bukanlah ingin memberikan sesajen atau doa-doa tertentu dari apa yang mereka inginkan, namun mereka mengantri tidak lain tidak bukan karena ingin mencari sarapan pagi.

Dibawah pohon jamblang itulah seorang emak-emak paruh baya dengan balutan kain yang membebat dipinggangnya membuka lapak dagangan yang cukup sederhana. Sebuah meja segiempat dimana diatasnya terdapat wadah nasi yang terbuat dari anyaman bambu, sebuah wadah plastik tempat menaruh daun kemangi, sebuah kaleng merk Khongguan yang lapisan luarnya nampak sudah berkarat sebagai wadah penyimpan uang dagangan, serta wadah plastik kecil yang digunakan untuk menaruh sambal. Sementara dikolong meja segiempat itu diletakkanlah sekantong plastik krupuk sebagai pelengkap sajian dari nasi ulam tersebut.

Selain menyukai nasi uduk, saya memang amat menyukai nasi ulam sebagai menu sarapan pagi kala itu. Nasi ulam yang memang merupakan makanan tradisional turun temurun dari masyarakat Betawi. Nasi ulam sendiri adalah hidangan nasi yang dicampur dengan bumbu dan rempah, khususnya daun pegagan (Centella Asiatica) atau kadang diganti dengan daun Kemangi, sayuran, dan berbagai bumbu, serta ditemani beberapa macam lauk-pauk.

Keberadaan nasi ulam sendiri tidaklah dimonopoli oleh suku Betawi saja karena suka Melayu di Sumatra serta suku di Bali juga mengenal sajian yang bernama nasi ulam ini.

Bagi saya sendiri, selain ingatan nasi ulam dengan pohon jamblangnya, tentunya saya teringat juga dengan uwak saya yang kebetulan memang pandai membuat nasi ulam. Sayangnya ditempat tinggal saya yang sekarang, “duo memori” ini (pohon jamblang dan nasi ulam) sudah susah sekali dicarinya. Pohon dan buah ini sepertinya sudah langka ya… 😀

Iklan

8 Comments

  1. nasi ulama ditempat aku masih ada yang jual,tapi kurang sedap kalo aku rasa,

    nah pohon jamblang belum ernah liat nih,kalo buahnya suka dijual dikenal dg anggur betawi 🙂

    dan kaleng karatan emang jadi trade marak buat jualan dan jd tempat uang yak 😀

    • ditempat sya sudah susah dicari, paling bnyk nasi uduk 🙂

      udah lama sekali sya tak pernah melihat pohon ini. yaa.. benar, buahnya mmg spt anggur, sya malah bru tahu klo namanya anggur betawi.. 😀

      wadah kaleng karatan sbg peranti nyimpen duit mmg spt menjadi trademark para pedagang makanan.. tak lekang ditelan jaman 🙂

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s