Rumahku Istanaku

image

Siang itu aku menyempatkan diri menengok rumah ku yang di Parung. Rumah kecil yang selama sepuluh tahun ini menjadi atap pelindung keluarga kecil ku dari panas dan hujan.

Lokasi rumah yang terbilang masih “rasa kampung” menjadikan ku tak mudah begitu saja melupakan semua yang terjadi disana. Kenangan-kenangan yang manis maupun yang pahit (alhamdulillah sih yang pahitnya sedikit dan bisa disikapi dengan kedewasaan kita) pastilah menjadi bumbu-bumbu yang senantiasa ada dalam sebuah keluarga yang sedang mengarungi bahtera kehidupannya.

Sebuah tempat wisata yang bernama Tirta Sania (Pemandian Air Panas Ciseeng) lokasinya tak jauh dari rumah kecil ku ini. Jaraknya mungkin tak lebih dari 3 km. Sementara itu tempat wisata lainnya seperti Pelita Desa (tempat outbond yang sering digunakan oleh anak-anak usia TK/SD), jaraknya mungkin hanya sekitar 5 kilometeran. Bila musim outbond tiba biasanya bus-bus besar dari Jakarta yang membawa anak-anak sekolah, seringkali melintas persis didepan perumahan ku ini. Sesekali aku berpapasan dengan bus-bus itu. Terlihat wajah-wajah ceria dan aura kebahagiaan ada didalam bus itu. Aku pun yang melihatnya dari luar hanya bisa tersenyum dan mengiyakan kegembiraan yang mereka rasakan.

Dahulunya kedua tempat wisata ini pernah aku masuki dengan hanya menggunakan sepeda. Saat itu aku memasuki tempat wisata ini di pagi hari tatkala sedang menggowes sepeda bersama kawan-kawan ku yang lainnya. Aku ingat tak sepeser pun uang yang aku keluarkan saat memasukinya. Rupa-rupanya idiom bangun di pagi hari itu membawa rezeki memang benar adanya.

Kini aku sudah tak sesering dulu lagi dalam bersepeda bareng karena satu dua kawanku sudah mulai disibukkan dengan keluarga barunya yang tentunya harus lebih didahulukan ketimbang yang lainnya. Aku sendiri tak masalah karena aku sudah terbiasa sendirian saat bersepeda.

Ditempat baruku yang sekarang (Jakarta) sebenarnya lebih enak untuk bersepeda. Enak karena jalan-jalannya yang mulus-mulus dan kontur jalan yang cenderung mendatar namun tidak senyaman di rumah ku yang di “kampung” itu. Disini, di ibukota Jakarta sangat ramai dengan lalu lintas kendaraannya sehingga para pengguna sepeda harus ekstra hati-hati saat mengayuh sepedanya. Ini tentunya sangat berbanding terbalik ketika aku bersepeda di rumah ku yang di kampung itu. Penuh kesunyian dan sepi dari kendaraan yang lalu lalang (kalo habis shubuh berangkatnya lho.. ) wkwkwk 😆 😆

Sekarang aku hanya menjalankan apa-apa yang sudah digariskan Rabb pemilik alam, termasuk tentunya menengok rumah pertama ku yang katanya “rasa kampung” ini dalam dua minggu/sebulan sekali. Bukankah ini semua sudah tercatat di lauful mahfudz, bukan begitu kawan?

Iklan

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s