Dikala Merindu

Dikala merindu aku suka sekali menulis. Menulis apa pun yang kuingat, hal-hal yang membuatku seringkali tersenyum sendiri, bahkan seringkali diiringi airmata yang turun begitu saja.. jatuh dipelupuk mataku.

Bukan.. bukan aku menyesali keadaanku hari ini. Aku sangat percaya dan yakin semuanya ini sudah tercatat disana.. di lauful mahfudz. Aku hanya menyesali bila aku tak bisa melakukan apa-apa yang telah dilakukan mereka, yakni para orangtua serta paman-paman ku.

Aku teringat dengan pamanku yang rumahnya dibelakang, yang mempunyai istri yang pandai membuat geplak. Dia dahulunya sering menengok alm ibuku disudut timur Jakarta sana. Sebulan sekali seingatku ada. Saat pamanku datang selalu saja ada yang dibawanya, yang membuat aku dan adik-adikku berebut mengambilnya. Entah itu buah rambutan ataupun kue geplak buatan istrinya. Aku bila melihat kedatangan pamanku yg sudah terlihat diujung jalan sana, bukan main senangnya. Aku masuk kedalam rumah sambil berteriak-teriak.. “Uwak datang.. uwak datang !”

Sementara pamanku lainnya yang rumahnya berada didepan, yang mempunyai bengkel motor vespa, selalu menyambutku dengan hangat saat aku main dan menginap di rumahnya. Demikian halnya dengan istrinya. Tak pernah sekalipun aku melihat raut wajah mereka yang tak mengenakkan saat aku berada disana. Sementara itu anak-anaknya selalu membelikan aku jajanan langganan, seperti bubur ayam sepeda ataupun bakso yang masuk kedalam saat itu.

Aku ingat sekali saat itu, aku pernah sakit saat berada di rumah pamanku. Istrinya paman (aku memanggilnya tante) dengan penuh kasih dan sayangnya membalurkan bawang merah disekujur tubuhku dan membebat kening kepalaku dengan kain, entah dikasih apa kain itu. Paginya alhamdulillah.. badanku mulai enakan dan aku tak boleh pulang dulu sampai benar-benar sembuh.

Saat pulang pun, aku tak melupakan.. tanteku selalu memberiku uang.. trims.. tante.. trims uwak.. trims.. sodaraku.

Ada lagi rumah sodara ku yg berada diujung utara Jakarta sana. Aku memanggil sodaraku ini dengan mpok dan kak (suaminya). Waktu itu aku sempat membantu ‘ngasuh‘ anak kembarnya yang suka aku ajak berkeliling sekitar komp perumahan bahkan pernah tanpa diketahui oleh mpok ku, aku mmbawa mereka hingga mesjid tak jauh dr PLTU Muara Karang.. (maaf ya mpok.. biar si kembar kuat ototnya.. terbuktikan sekarang.. ! 😊😇).

Dengan suaminya aku pun kerap diajak mancing dengan alat pancing yang sederhana. Namun walau sederhana, saat pulang ada saja hasil tangkapan ikan yang dibawanya meskipun ukurannya tidak besar-besar.

Aku juga masih ingat.. berkat pergaulan supel mpok ku dengan para tetangganya, aku sempat merasakan kerja kontrak di PLTU Muara Karang. Pernah saat jam istirahat kerja, aku naik ke anjungan paling atas dari pltu dan memandang luas Lautan Jawa yang membiru dibawah sana. Aku meluaskan pandanganku saat itu tanpa mempedulikan hembusan angin yang menerpa wajah kecilku…

~~~~

Berani bercerita? Siapa takut.. ?!😊

Video

1 Comment

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s