Ketika Ambil Raport

Hari ini seharusnya menjadi hari nostalgia buat bidadariku yang akan mengambil raport anak gadisnya di sekolah dimana dia dahulunya pernah bersekolah. Namun dia lebih memilih kota Garut untuk menghabiskan waktu week-end nya, apalagi kepergiannya itu merupakan acara kantor dari bosnya yang bulan Juli mendatang akan berangkat ke tanah suci Mekkah.

Ambil raport urusan Ayah yaa.. Aku mau refreshing dulu ke Garut,” ledeknya sore kemarin.

Ajak anakmu.. biar ikutan senang diajak jalan-jalan, mumpung gratis,” balasku lagi.

Aku memang sengaja menyuruh anakku ikut dengan bundanya sekalian
menemaninya disana.

***

Sekolah anakku dengan rumahku sebenarnya tak terlalu jauh, bisa dijangkau dengan berjalan kaki yang jaraknya memang hanya beberapa ratus meter saja. Cuma aku tak tega rasanya bila tak mengantarnya saat dia berangkat ke sekolah. Tahu sendiri tentunya bila sekolah di jaman sekarang sangat jauh berbeda dengan di masa aku bersekolah dulu.

Isi tas sekolah anak-anak sekarang cukup memberatkan tubuh mereka. Banyak buku-buku cetak maupun tulis yang dibawanya saat pergi ke sekolah. Hal ini yang tidak aku alami saat dahulu bersekolah. Aku ingat.. terkadang hanya bawa satu buku tulis (itupun dilipat) yang diselipkan dikantong celana belakang, aku menuju sekolah dengan wajah lepas penuh keriangan. Sementara buku cetaknya sendiri sudah tersedia di sekolah yang tersimpan rapih didalam perpustakaan sekolah. Pada saat jam pelajaran, barulah buku-buku cetak itu diambil dari sana. Kami biasanya suka berebutan saat guru menyuruh mengambil buku-buku itu di perpustakaan, maklumlah momen ini terkadang dijadikan kesempatan oleh beberapa kawanku untuk singgah dulu di kantin untuk mencicipi roti gorengnya ibu kantin.

***

Saat aku masuk ke ruang kelas anakku, nampak disana sudah banyak para orang tua murid dengan didampingi anak-anaknya. Cuma aku sendiri sepertinya yang tanpa membawa pendamping yang kebetulan memang sedang diajak jalan-jalan oleh bundanya.

Sejenak aku memperhatikan ruang kelas anakku. Ada dua buah kipas angin menggantung didua sudutnya disana. Sementara ditengah, sebuah tiang tergantung ‘menjuntai’ yang nampaknya seperti piranti proyektor yang sesekali digunakan oleh para guru dalam proses belajar mengajarnya di sekolah.

Tiba-tiba mataku tertuju pada papan tulis putih yang berada didepanku. Disana tertera nama-nama siswa yang masuk dalam peringkat 10 besar. Dan alhamdulillah.. anak gadisku mendapat peringkat yang sangat memuaskan. Aku bersyukur sekali dengan pencapaiaannya ini.

Aku langsung mengirim pesan pendek beserta fotonya pada whatsapp anak gadisku.

Yeay.. !” jawabnya penuh suka cita

Mana hadiahnya?” balasnya lagi

Hadiahnya kan sudah diajak jalan-jalan sama bunda ke Garut,” candaku lagi.

***

Nak.. jangan bangga dulu dengan peringkatmu. Itu hanya soal angka-angka mu di dunia. Ayah dan bundamu lebih bangga lagi bila ‘peringkat rohani’ mu dihadapan Rabb-Mu lebih tinggi dari sekedar peringkatmu di dunia karena itulah sesungguhnya yang akan menyelamatkanmu nanti…”

Iklan