Cerita Tentang Jari Jemari

tapak_tanganEntah sejak kapan orang menggunakan jari jemari terutama dalam hal menentukan “siapa yang pertama memulai” dalam suatu permainan ataupun perlombaan. Adapun metode yang penulis maksudkan diatas diistilahkan dengan “suit”, dimana beberapa ruas jari yang biasa digunakan adalah ibu jari (jempol), kelingking dan telunjuk. Sementara dua ruas jemari yang lainnya, yaitu jari tengah dan jari manis tidak dipergunakan.

Masuk diakal memang bila dua ruas jemari (jari manis dan jari tengah) tidak digunakan dalam proses “suit” karena memang agak sulit membuka kedua ruas jari ini, tidak seperti jempol, kelingking ataupun telunjuk yang begitu terbuka dengan mudahnya. Tidak percaya ?! Coba saja anda membuka jari manis ataupun jari tengah seperti layaknya anda hendak “suit”. Pasti saat anda membukanya, ruas jari yang lainnya ada yang ikutan terbuka. 😆

Berkaitan dengan ketiga ruas jari yang dipergunakan dalam proses “suit” diatas, ternyata ketiga ruas jari ini bagaikan lingkaran yang saling mengalahkan satu dengan yang lainnya. Tengoklah bagaimana jari telunjuk mengalahkan jari kelingking, jari kelingking mengalahkan ibu jari (jempol) dan akhirnya jempol dapat mengalahkan jari telunjuk. Lingkaran yang saling mengalahkan ini mungkin bisa dipersepsikan seperti rantai makanan dalam ilmu biologi yang dulu pernah kita pelajari.

Metode untuk menentukan “awal siapa yang memulai” (suit) barangkali hanya ada di Indonesia. Penulis tak tahu apakah negara-negara lain ada yang sama penerapannya seperti di negri kita. Cuma kalau kita pernah menonton pertandingan sepakbola yang dipakai bukan cara “suit” melainkan dengan koin yang dilempar oleh sang wasit, dimana sebelumnya masing-masing tim kedua kesebelasan memilih salahsatu sisi pada koin tersebut.

Ruas jari jemari selain dapat digunakan untuk cara “suit”, juga dapat melambangkan makna komunikasi dari suatu isyarat. Contoh konkretnya seperti ini:

Jari jempol (keatas) bermakna sesuatu hal yang bagus, brilian, serta patut diapresiasi. Bahasa bulenya.. “good job.. !”

Jari jempol (kebawah) bermakna kebalikannya, yaitu sesuatu hal yang buruk. Bahasa bulenya.. “you lose.. !”

Jari jempol (agak dimiringkan), ini biasa terlihat didaerah Priangan (Tatar Sunda) yang bermakna keramahan, penghormatan kepada tamu ataupun juragannya. Contoh: “Ini juragan, rumah neng Teti yang agan cari-cari..,” 😉

Jari kelingking bermakna menganggap remeh lawannya.

Jari manis bermakna lambang cinta kasih karena biasa digunakan sebagai “spot” penyematan cincin pernikahan dari mempelai pria. 😎

Jari tengah bermakna sesuatu yang agak vulgar, seronok. Intinya agak mesum lah.. 🙄

Jari telunjuk (keatas) bermakna pengakuan jati diri seseorang, keterpanggilan. Untuk yang satu ini penulis selalu teringat dengan bintang AC Milan Kaka yang selalu memperlihatkan jari telunjuknya keatas usai mencetak gol ke gawang lawannya. 😎

Jari telunjuk (mendatar) bermakna suatu kearoganan dari seseorang. Untuk yang ini penulis jadi teringat beberapa bulan yang lalu dimana seorang pengusaha terkenal “memarahi” seorang awak media dengan menunjuk-nunjuk tangannya sambil berucap,” Rumah-rumah gue, mau gue bakar juga apa urusannya.. iye gag !” :mrgreen:

Terus bagaimana dong maknanya bila ruas jari jemari itu dibentangkan. Beneran nih anda mau tahu… Itu maknanya bervariasi, bisa anda dihormati oleh seseorang ataupun bisa juga anda akan mendapatkan kekerasan yaitu berupa tabokan atau gamparan . Mau pilih yang mana, silahkan dah.. 😆

sumber gambar: aangadha.blogspot.com

Iklan

12 Comments

  1. kalo jari tengah masih bisa buat suit aku,ga kebuka jari yang laen,tapi kalo jari manis asli ga bisa uey ni lagi nyobain 😛

    kalo negara lain suitnya pake tangan dan jari yang gunting batu kertas itu loh..

    kalo gunting jari telunjuk dan tengah,yang lain lipat,kalo batu genggam smua jari,kalo kertas 5 jari di rentangkan..

  2. kalau suit di luar negeri bukan pake satu jari… tapi semua jadi 😀

    jari telunjuk dan tengah itu artinya gunting
    kelima jari dibuka itu artinya kertas
    kalau mengepal itu artinya batu

    kertas kalah dengan gunting
    gunting kalah dengan batu
    batu kalah dengan kertas

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s