Doa Tukang Sol

Berulang-ulang bapak tukang sol sepatu itu mengucapkan terimakasih atas pembayaran sejumlah uang yang baru saja aku berikan kepadanya. Dari mulutnya lalu terlontar doa-doa indah buat ku dan keluargaku di rumah. Aku merasa terharu sekali mendengarnya.

Pagi itu aku memang baru saja menggunakan jasa tukang sol sepatu setelah beberapa hari sebelumnya menunggu dan berharap ada abang tukang sol yang melewati rumah kecilku. Dan akhirnya pucuk dicinta ulam pun tiba, abang itulah yang datang.

Saat itu aku sengaja tak menanyakan berapa harga yang harus aku bayar untuk sejumlah sepatu dan sandal yang akan diperbaiki itu. Aku baru menanyakan ongkos harganya setelah semua pekerjaan itu diselesaikan oleh si bapak tukang sol. Aku merasa ongkos yang disebutkannya masih wajar sehingga aku pun langsung saja membayarnya tanpa menawarnya kembali. Mungkin saja kebaikanku dengan tanpa menawar ongkos itu membuat bapak tukang sol merasa senang sekali dan berbahagia sehingga si bapak sampai mendoakanku seperti itu.

Menjadikan nilai ekonomis tentunya saat mana aku memakai jasa bapak tukang sol untuk ‘menjahitkan’ kembali beberapa pasang sepatu dan sandalku yang sudah membuka jahitannya pada beberapa sisinya. “Lumayanlah kalau masih bisa dibetulkan daripada beli lagi,” fikirku dalam hati.

*****

Aku masih teringat dengan doa itu. Doa yang indah di pagi hari dimana mentari saat itu masih menghangat dengan sinarnya. Aku berharap doaku dan doa si bapak akan sampai kelangit seiring naiknya cahaya keemasan itu..

Iklan