Dunia Malam Metropolitan

malamPernah merasakan dunia kerja di malam hari sehingga sedikit banyak, saya bisa membayangkan seperti apa kehidupan malam di kota metropolitan Jakarta. Kota besar yang sudah penuh sesak dengan orang-orang didalamnya, namun selalu saja menjadi magnet buat orang-orang desa untuk mengunjunginya sekaligus mencoba peruntungan nasibnya disana. Mungkin beberapa orang ada yang sukses dengan kegigihannya, namun tak jarang pula banyak orang-orang desa justru mendapatkan nasib yang lebih buruk dari apa yang mereka bayangkan sebelumnya.

Entah sampai kapan kota Jakarta tidak lagi menjadi magnet bagi orang-orang desa. Mungkin saja bila nanti pemerataan pembangunan sudah benar-benar merata dan menyentuh semua aspek kehidupan masyarakat di pedesaan, tapi itu pun entah kapan. Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Orang-orang desa sebenarnya bagaimana tidak tertarik dengan kota Jakarta yang sepertinya menjadi “surga” dalam hal mendapatkan uang. Coba sejenak bayangkan, apa sih yang tidak bisa dijadikan duit di kota besar ini? Dari mulai barang rongsokan, ikan-ikan busuk, botol-botol bekas air mineral, cup air mineral, kardus-kardus bekas, koran-koran bekas hingga perihal harga diri pun bisa dijual demi sesuap nasi. Untuk yang terakhir ini, biasanya tak jarang wanita desa yang terjebak didalam bisnis prostitusi sehingga mereka menjajakan dirinya kepada para hidung belang disaat malam menjelang. Sementara kaum prianya ada yang menjadi gigolo dengan modal tubuhnya yang atletis dan proporsional sehingga membuat para tante-tante kesepian seakan ‘berlomba’ untuk ‘memelihara’nya, untuk kemudian dijadikan pemuas nafsu sex liarnya.

Dunia malam di kota metropolitan Jakarta memang selalu menciptakan keindahan-keindahannya tersendiri. Lampu-lampu yang berwarna-warni menyalakan sinarnya yang ‘romantis’ secara massal sehingga acapkali menyilaukan dan menggoda orang-orang yang tipis imannya.

Gelapnya malam seringkali membuat orang-orang terperdaya dan terbuai dengan apa yang mereka lihat sesungguhnya. Banyak mungkin dari kita pernah merasakan bahwa melihat wanita di malam hari sepertinya jauh berbeda ketika melihatnya di pagi/siang hari yang terang. Di malam hari sepertinya wanita lebih cantik dan lebih anggun dengan balutan busana yang mereka pakai. Begitu pula hal sebaliknya dengan kaum pria, di malam hari sosok pria nampak lebih handsome dan lebih punya kharisma. Mungkin ada yang menilai kalau asumsi saya ini salah dan terlalu imajinatif. Itu terserah kepada penilaian anda masing-masing tentunya.

Malam memang menyimpan sejuta misteri yang “sulit” terpecahkan bagi orang-orang yang sedang jauh dengan Rabb-Nya. Namun tidak bagi orang-orang yang beriman yang selalu membasahi mulutnya dengan dzikirnya, yaitu dzikir menjelang malam.

Selamat menikmati shift malam ! 😉

Sumber gambar

Iklan

18 Comments

  1. jakarta itu semakin malam semakin hidup..

    disatu sisi orang pulang kerja,disisi lain berangkat kerja dan baru akan mulai beraktifitas,tukang pecel ayam pecel lele kesukaan mas capung juga dimulai malam hari,tukang nasi goreng,tukang sate keliling juga malam hari….

    bersyukur saya tdk kerja malam hari,karna malam hari bagi saya adalah waktunya istirahat 🙂

    tiap menjemput kakak saya malam hari jalanan masih ramai jadi ga takut,jakarta makin hingar bingar kalo malam 😦

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s