Adu Penalti

adu penaltiAdu penalti atau dalam sistem sepakbola “tarkam” (antar kampung) disebut dengan ‘tos-tosan’ ini seringkali membuat “stress”. Tidak hanya membuat stress pemain yang terlibat langsung didalamnya, atau pelatih yang bertindak sebagai sang peracik strategi di lapangan hijau, namun juga membuat stress para fans-nya yang ada didalam/diluar stadion.

Kalau disuruh memilih pastinya para pemain ataupun pelatih kedua tim ingin rasanya menghindari sistem sepakbola (baca: adu penalti) yang seringkali menjadi momok menakutkan terutama sekali terhadap beberapa negara yang mempunyai tradisi cukup pahit dengan sistem yang satu ini.

FIFA sebagai organisasi tertinggi sepakbola dunia sebenarnya sudah menjembatani adanya kegalauan dari pihak-pihak yang sering “dirugikan” dengan sistem adu penalti, yaitu dengan digunakannya sistem lain yang lebih fair dan “memuaskan” kedua tim, seperti model extra-time 2X15 menit yang dibarengi dengan sudden death didalamnya.

Istilah sudden death yang terdapat didalam extra-time tersebut tentunya berarti bahwa siapa saja negara/tim yang mencetak gol terlebih dahulu dalam masa perpanjangan ini, negara/tim tersebutlah yang menjadi pemenangnya. Walaupun waktu tambahannya masih cukup panjang tersisa.

Cara sudden death mungkin sangat jauh dari kata “untung-untungan” seperti yang ada didalam sistem adu penalti. Namun tentunya bila didalam sistem sudden death belum juga menentukan pemenangnya maka suka atau tidak suka, sistem adu penalti lah yang kemudian diterapkan guna mencari siapa tim pemenangnya. Menurut FIFA cara terakhir inilah yang masih layak dipergunakan hingga sampai sekarang dibandingkan misalnya dengan salahsatu cara lainnya yang lebih “nyesek:mrgreen: , yaitu dengan cara mengundi dengan koin.

Bagi saya sendiri sebagai penikmat sepakbola, ada beberapa drama adu penalti yang masih terekam kuat didalam ingatan saya sampai sekarang, yaitu:
Drama adu penalti saat final Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat, dimana saat itu publik Italia menangis saat sepakan “si kuncir kuda” Roberto Baggio melayang tinggi diatas gawang kiper Brasil.

Drama adu penalti saat final Piala Dunia 2006 di Jerman, dimana waktu itu giliran Italia berhasil membungkam Prancis.

Drama adu penalti yang baru-baru ini terjadi dalam perhelatan Piala Dunia Brasil, yaitu tatkala mempertemukan dua negara Amerika Latin, Brasil versus Chile. Kemenangan dramatis Brasil ditentukan oleh tiang gawang. Sepakan dari penembak terakhir pemain Chile hanya bisa membentur mistar gawang dan sekaligus membawa Brasil maju ke babak perempat final.

Drama adu penalti saat final Liga Champions di Stadion Luzhniki Moskwa, saat John Terry sebagai penendang terakhir dari klub Chelsea tergelincir dan sepakannya tidak sempurna yang berujung kepada Trophy Liga Champions yang terbang ke kandang Manchester United.

 

Iklan

8 Comments

  1. Iya benar kawan.. sudden death langsung menghentikan jalannya pertandingan tsb.. tapi klo gag salah gol yg tercipta didlm sudden death itulah yg dinamakan ‘golden goal’ 😀

    Tapi thx masukannya.. nnti sya akan perdalam lagi istilah ini 😀

  2. saya tahunya sudden death udah nggak dipake lagi, mas. udah diganti dengan golden goal atau istilah lain. di mana tim yang kebobolan di ekxtra time masih berkesempatan mencetak gol balasan sampe extra time berakhir.

    kalau sudden death, gol yang terjadi langsung menghentikan pertandingan.

    kalau saya nggak salah 😀

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s