Sebuah Kursi

Sebuah kursi dari bahan plastik selalu berada disudut sana, dibarisan depan sebuah mesjid. Seorang bapak tua dengan tongkat setia yang menopang tubuhnya dalam berjalan, dialah “pemilik” kursi plastik itu.
Baca lebih lanjut

Iklan

Jalan-jalan ke Parung (Edisi Santai)

Sabtu kemarin jalan-jalan edisi santai ke rumah kecilku di Parung sana. Karena cuma menginap semalaman jadi aku berangkat tak membawa keluarga, cukup sendirian saja. Walau hanya sendirian saja tapi aku selalu ingat dengan ‘petuah’ para fans nya Liverpool, “You will never walk alone“.. yaa.. aku tak pernah menganggap diriku berjalan sendirian karena ada doa serta pesan dari istri dan malaikat kecilku yang selalu menyertai kepergianku hari itu. Doa dan pesan inilah yang selalu terngiang-ngiang ditelinga kecilku, “Hati-hati bang.. jangan ketiduran di kereta, ntar bablas lagi.. ! “Jangan lupa mie Apollonya ya Yah yang di PGB Bogor..

Titik berangkat pagi itu berawal dari “rumah singgah” ku di Pondok Bambu. Mengingat ini adalah jalan-jalan santai jadi aku tak membawa motor kesayanganku, kali ini aku menggunakan angkutan umum. Pertama aku memesan ojek online yang berbendera Grab (kebetulan aku juga mitranya disana) dengan tujuan Stasiun Tebet. Dengan waktu tempuh 10 menitan dan argo 13 ribu, aku sudah sampai di Stasiun Tebet. Cukup singkat memang karena jalur rumah singgahku tak jauh dari fly-over Pondok Bambu. Sementara salahsatu ruas diperempatan itu adalah jalan yang mengarah lurus ke Kp Melayu – Casablanka.

Sampai di Tebet, aku mengecek dahulu kartu multichip yang tadi diberikan istriku sesaat sebelum berangkat. Ada dua kartu yang diberikannya, “Cek dulu kartunya nanti sebelum ngetap, disana ada box mesin kecil yang berfungsi mengetahui besaran nilai saldo kartu kita. Kalo ngga tahu nanya ya Bang, jangan gengsi bertanyaq,” cerocos istriku.

Iya.. bunda,” jawabku singkat.

Setelah urusan kartu selesai lalu aku menunggu di jalur kereta yang mengarah ke Stasiun Kota, sementara tujuanku adalah Stasiun TanahBang yang nantinya aku transit disana dan berganti kereta untuk melanjutkan ke tujuan akhir yakni Stasiun Serpong.

Di Stasiun Tebet tak menunggu lama, aku lalu menaiki kereta Commuter Line yang mengarah ke Stasiun Tanahbang. Kereta ini sendiri mengakhiri tujuan akhirnya di Stasiun Duri-Angke. Jarak tempuh St Tebet – St Tanahbang sekitar 15 menitan dengan melalui 3 stasiun, yakni St Manggarai, St Sudirman, dan St Karet.

Sesampai di Stasiun Tanahbang lumayan crowded penumpangnya terutama jalur kereta yang mengarah ke Bogor. Aku sendiri harus menyebrang jalur dan harus melalui eskalator yang cukup sempit (pas untuk dua badan). Eskalator sisi kiri untuk ‘edisi santai’ (baca: penumpang diam tak bergerak), sementara sisi satunya penumpang yang harus bergerak melangkah).

Jalur 6 dan 7 biasanya adalah jalur Commuter Line yang mengarah ke St Serpong – Rangkasbitung. Pada jalur inilah aku menunggu.

Sudah ada kereta Commuter Line pada jalur tersebut, cuma untuk lebih meyakinkan lagi, aku lalu bertanya pada petugas yang berdiri tak jauh dari kereta yang ada, “Maaf.. Pak ! Ini kereta ke Serpong ya?

Iya benar pak.. kereta ini cuma sampai Serpong,” jawabnya.

Aku melihat penunjuk waktu di hape ku sudah jam 07:20, sementara waktu pemberangkatan Commuter Line Serpong 07:25. Tanpa menunggu lama, Lalu masuklah aku kedalam kereta itu. Rupanya kereta ini belumlah banyak penumpangnya atau boleh dikatakan penumpangnya masih sepi. Didalamnya ada beberapa petugas cleaning yang sedang menjalankan rutinitasnya, yakni membersihkan lantai kereta api.

Tepat jam 07:25 (horee on time) kereta Commuter Line ini membawaku menuju Stasiun Serpong. Didalam kereta kuamati semua yang ada, dari tv led gantung yang berisi iklan-iklan hingga para penumpang di planet biru ini yang bagaikan robot, tunduk teratur mengamati benda bernyala ditangannya. Ada yang sambil menyumpal gendang telinganya dengan lilitan kabel berwarna putih maupun hitam, ada yang sesekali tersenyum dengan benda bernyalanya seperti wanita berhijab merah diujung sana, ada yang mencoba menutup matanya namun belum bisa-bisa sepertinya, dan ada juga yang selalu memperhatikan tingkah pola para penumpang kereta seperti halnya diriku ini.

Setengah jam kemudian tibalah aku di Stasiun Serpong yang sepertinya stasiun ini sedang dalam proses pembangunan pada beberapa sisinya (pelebaran jalur nampaknya). Pada sisi kanan dari jalur rel stasiun malah sudah ada beberapa rumah yang dibongkar dan dihancurkan. Aku jadi teringat dengan emak-emak penjual nasi uduk yang saban paginya dulu aku singgahi disana, kini sudah tak ada lagi bekasnya.

Untuk mencapai rumah kecilku di Parung, dari Stasiun Serpong ini, aku harus naik turun angkot 3 kali lagi. Yang pertama-tama angkot dengan trayek Serpong-Psr Parungpung (5 ribu ongkosnya), kedua Psr Parungpung-Ciseeng (idem ongkosnya) dan Ciseeng-rumahku (3 ribu saja). Sebenarnya bisa saja saat di Serpong, aku memesan ojek online untuk mempersingkat waktu, cuma karena memang ini adalah jalan-jalan santai, aku benar-benar ingin memanfaatkan angkutan umum saat berangkatnya ini. Sekedar tahu saja, bila naik motor dari Stasiun Serpong ke rumahku dalam 30 menitan saja sudah sampai. Sedang bila naik angkot bisa satu jam lebih baru sampai rumah.

Singkatnya, jam 10 kurang lebihnya aku sampailah di rumah kecilku. Baru datang langsung buka-buka jendela, biar berganti sirkulasi udaranya trus nyapu-nyapu rumah didalam/diluar, kemudian mengepel lantai. Edisi jalan-jalan santainya berbuah kelelahan juga ujung-ujungnya. Dan aku pun harus mengistirahatkan tubuhku dalam waktu beberapa jam kedepan… 😇👌

Trims.. Dortmund !!

Trims.. Dortmund !! Dan trims juga buat para fans fanatik bolanya disana. Aku suka banget dengan selebrasi ‘Ole‘ yang keluar dari suara para pendukungnya saat usai timnya mencetak gol ke gawang lawannya.

Benarkan itu nyanyian selebrasinya diambil dari penggalan lagunya PSB (Pet Shop Boys) yang berjudul Go West? Oh ya.. Aku belum lihat Wikipedia lho.. cuma Aku yakin aja kalau lantunan selebrasi itu merupakan reffrain dari lagu yang berjudul Go West.

Baca lebih lanjut