Pamanku di Bandung

Pamanku yang di Bandung tiba2 mengontak di nomor Whatsapp ku. Awalnya agak terkejut dan kaget juga dibuatnya. Aku tak tahu darimana pamanku mendapatkan nomor hape ku. Sekian puluh tahun baru kali inilah aku bisa berkomunikasi dengannya walau hanya lewat sebuah handphone.

Ada perasaan malu dan bersalah pada diriku yang seolah-olah telah melupakannya selama ini. Rupanya kerinduan dan kecintaan terhadap saudaranya telah membuncah dalam dadanya hingga pamanku ini rela meninggalkan ‘status senioritasnya’ dengan mengontak lebih dahulu saudaranya yang lebih muda (dan lebih pantas disebut sebagai anaknya), yakni aku sendiri.

Sebenarnya mengontak aku hanyalah sebagai jembatan baginya untuk bisa berkomunikasi langsung dengan saudara lainnya yang lebih dirindukannya, yaitu pamanku yang di Depok sana.

Uwak kangen dan rindu sekali ingin berkomunikasi dengan wa Marsan yang di Depok. Kamu tahu nomor telpnya, Yud?” Sudah tak ada siapa-siapa lagi Yud yang tua-tua.. dan kini hanyalah tinggal uwak (Asep) dan uwak (Marsan). Uwak kangen.. !” ucapnya dengan lirih penuh harapan.

Aku terdiam beberapa saat dan seperti tersentil dengan apa yang baru saja dikatakannya. Kerinduan akan saudaranya diusianya yang semakin senja.

Yaa Rabb.. tautkanlah senantiasa hati kami masing-masing dengan cahaya-Mu yang penuh Kasih dan Sayang. Janganlah kami saling melupakan satu dengan lainnya seperti masa dimana orang-orang tua kami masih ada dahulunya..

***

Trims wa Asep..

Video: marsilingco (Youtube)

Trims untuk komentarnya....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s